WASHINGTON, PARAGRAFNEWS.CO — Iran kembali menegaskan bahwa penyelesaian konflik dengan Amerika Serikat dan Israel harus ditempuh melalui jalur diplomasi. Pernyataan itu disampaikan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan telah menolak proposal Iran yang menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz sekaligus penghentian pertempuran di kawasan.
baca juga: Trump-Xi Bertemu di Gedung Putih, Gencatan Dagang AS-China Diperpanjang hingga Januari 2027
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi pada Minggu (27/9/2026) mengatakan syarat Tehran untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut tetap jelas. Menurutnya, pembukaan Selat Hormuz bergantung pada terpenuhinya sejumlah kondisi melalui proses negosiasi.
Iran Tunggu Respons Resmi Amerika Serikat
Proposal Iran sebelumnya disampaikan dalam rangkaian pertemuan Majelis Umum PBB di New York dan diteruskan kepada pihak Amerika Serikat melalui mediator Qatar.
Dalam proposal tersebut, Iran menyatakan siap membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu sekitar tujuh hari setelah tercapainya kesepakatan, sekaligus mendorong penghentian pertempuran di kawasan.
Namun, Trump pada Sabtu (26/9) mengatakan kepada wartawan bahwa dirinya telah menolak proposal tersebut.
Meski demikian, menurut Reuters, Araqchi menyatakan mediator yang terlibat dalam komunikasi Iran-Amerika Serikat belum secara resmi menyampaikan kepada Tehran penolakan final dari Washington.
Iran, kata dia, masih menunggu posisi resmi yang disampaikan melalui jalur mediator sebelum menentukan langkah berikutnya.
Selat Hormuz Jadi Titik Krusial
Perselisihan mengenai Selat Hormuz menjadi salah satu persoalan utama dalam konflik yang berlangsung selama berbulan-bulan.
Selat yang berada di antara Iran dan Oman tersebut merupakan jalur pelayaran energi yang sangat penting. Gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan itu telah berdampak pada arus minyak dan perekonomian global.
Reuters melaporkan konflik tersebut telah mengganggu aliran minyak melalui jalur pelayaran strategis dan memberikan tekanan terhadap ekonomi dunia.
Amerika Serikat sendiri telah menerapkan blokade ekonomi terhadap Iran sebagai bagian dari tekanan terhadap Tehran. Sementara itu, lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz dilaporkan turun drastis akibat konflik dan serangan terhadap kapal.
Proposal Iran Berkaitan dengan Konflik yang Lebih Luas
Rencana yang ditawarkan Iran bukan hanya berkaitan dengan pembukaan Selat Hormuz.
Jika kesepakatan tercapai, pembicaraan yang lebih luas dapat mencakup penghentian permusuhan serta pembahasan mengenai program nuklir Iran.
Namun, terdapat perbedaan mendasar mengenai program tersebut.
Trump berulang kali menyatakan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Di sisi lain, pejabat Iran mengatakan Tehran tidak akan memberikan konsesi terkait haknya atas program nuklir, termasuk pengayaan uranium.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga mengatakan Tehran siap melakukan pembicaraan mengenai program nuklir dan persoalan lainnya, tetapi menolak apa yang disebutnya sebagai tekanan atau pemaksaan.
Diplomasi Masih Terbuka
Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup meski Trump menyatakan telah menolak proposal Iran.
Sebelumnya, seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan pembicaraan tidak langsung antara Washington dan Tehran melalui mediator berlangsung secara “positif dan konstruktif”, menurut Reuters.
Di sisi lain, Iran terus menegaskan bahwa penyelesaian yang dinegosiasikan merupakan jalan keluar dari kebuntuan saat ini.
Situasi di Selat Hormuz masih menjadi perhatian internasional karena setiap perubahan terhadap lalu lintas pelayaran di kawasan tersebut dapat berdampak pada perdagangan energi dan kondisi ekonomi global.
Paragrafnews.co akan terus memantau perkembangan diplomasi Iran-Amerika Serikat serta situasi pelayaran di Selat Hormuz.
Sumber
Reuters, 27 September 2026.