NEW YORK – Amerika Serikat dan Iran sedang menjajaki skema kesepakatan bertahap yang dapat membuka kembali Selat Hormuz sekaligus mengurangi tekanan ekonomi dan militer terhadap Teheran.
Menurut laporan Reuters, para negosiator kedua negara melakukan pembicaraan di New York di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dalam rancangan yang masih dibahas, Iran dapat membuka kembali jalur pelayaran melalui Selat Hormuz, sementara Amerika Serikat memberikan sejumlah langkah terkait blokade ekonomi terhadap Iran.
Namun, belum ada kesepakatan final. Kedua pihak masih memiliki perbedaan mengenai urutan langkah dan konsesi yang harus diberikan.
Selat Hormuz Jadi Kartu Utama dalam Negosiasi
Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling penting dalam konflik AS-Iran karena merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi dunia.
Sebelum konflik berlangsung, sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam dunia melewati kawasan tersebut. Gangguan terhadap pelayaran di jalur ini dapat memengaruhi pasokan energi sekaligus meningkatkan tekanan terhadap harga minyak global.
Iran sebelumnya menyatakan kesediaannya membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu sekitar tujuh hari apabila Amerika Serikat mengurangi tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Tawaran tersebut telah disampaikan melalui mediator.
Perkembangan terbaru menunjukkan isu pembukaan Hormuz kini menjadi bagian penting dari pembicaraan untuk mencari jalan keluar dari konflik.
Harga Minyak Mulai Merespons
Pasar energi langsung merespons munculnya peluang diplomasi tersebut.
Reuters melaporkan harga minyak turun pada Jumat, 25 September 2026, karena pasar mempertimbangkan kemungkinan tercapainya gencatan senjata atau kesepakatan antara Washington dan Teheran.
Namun penurunan harga masih terbatas karena kekhawatiran pasokan tetap muncul setelah meningkatnya serangan kelompok Houthi terhadap fasilitas dan kepentingan energi Arab Saudi.
Data pasar yang dikutip Bloomberg juga menunjukkan minyak Brent masih berada di atas US$106 per barel, sementara WTI berada di atas US$94 per barel dalam perdagangan Jumat.
Kondisi tersebut menunjukkan pasar masih menilai risiko gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah cukup tinggi.
Iran Masih Memasang Syarat
Diplomasi yang berlangsung di New York belum menghilangkan perbedaan mendasar antara Washington dan Teheran.
Iran menginginkan pengurangan tekanan militer serta pencabutan blokade sebagai bagian dari proses menuju pembukaan Hormuz. Sementara itu, Amerika Serikat menginginkan kepastian bahwa jalur pelayaran tersebut dapat digunakan secara bebas oleh kapal-kapal internasional.
Laporan terbaru juga menunjukkan Iran masih mempertahankan posisi bahwa pembukaan Hormuz bergantung pada terpenuhinya sejumlah persyaratan dari pihak Amerika Serikat.
Karena itu, pembicaraan yang berlangsung saat ini belum dapat disebut sebagai kesepakatan damai.
Dampaknya bagi Ekonomi Dunia
Perkembangan di Selat Hormuz tidak hanya menyangkut hubungan AS dan Iran. Setiap perubahan terhadap keamanan jalur tersebut dapat memengaruhi pasar minyak, biaya pengiriman, inflasi, dan harga energi di berbagai negara.
Jika pelayaran dapat kembali berlangsung secara lebih normal, tekanan terhadap pasokan energi global berpotensi berkurang. Sebaliknya, apabila negosiasi kembali menemui jalan buntu dan gangguan pelayaran meningkat, pasar dapat kembali menghadapi tekanan harga.
Untuk Indonesia, perubahan harga minyak dunia juga menjadi perhatian karena harga energi global dapat memengaruhi biaya transportasi, industri, logistik, dan tekanan inflasi.
Belum Ada Kesepakatan Final
Hingga Jumat, 25 September 2026, pembicaraan AS-Iran masih berlangsung dan belum menghasilkan kesepakatan final mengenai pembukaan Selat Hormuz maupun pengakhiran konflik.
Yang telah terlihat adalah munculnya jalur diplomasi baru dengan Hormuz sebagai salah satu isu utama. Perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada apakah Washington dan Teheran dapat menyepakati urutan langkah, jaminan keamanan pelayaran, serta konsesi ekonomi dan militer masing-masing pihak.
Sumber: Reuters, Bloomberg, dan laporan perkembangan diplomasi AS-Iran di New York, 25 September 2026.





