JAKARTA — Indonesia memasuki babak baru dalam pembangunan kekuatan pertahanan maritim. Kapal induk eks Angkatan Laut Italia, Giuseppe Garibaldi, kini tengah dalam perjalanan menuju Indonesia dan dijadwalkan tiba sekitar 15–20 September 2026.
Kapal tersebut nantinya akan masuk dalam jajaran TNI Angkatan Laut dan diproyeksikan menggunakan nama KRI Gajah Mada. Pemerintah tidak sekadar mempertahankan konfigurasi lamanya, tetapi berencana melakukan refurbishment dan modifikasi agar kapal lebih sesuai dengan kebutuhan Indonesia.
Presiden Prabowo Subianto pada Senin (7/9/2026) mengungkapkan bahwa Giuseppe Garibaldi akan diarahkan menjadi kapal induk helikopter dan drone.
“Alhamdulillah sebentar lagi kapal induk dari Italia akan masuk ke jajaran Angkatan Laut kita. Itu kita akan refurbish, kita ubah untuk menjadi kapal induk helikopter dan untuk drone,” kata Prabowo dalam rapat terbatas terkait penanganan bencana alam.
Menurut Prabowo, kapal tersebut dapat menampung hingga 10 helikopter kelas menengah, termasuk tipe yang sekelas Black Hawk dan Mi-17. Helikopter-helikopter itu nantinya dapat digunakan untuk membawa air dalam jumlah besar guna mendukung operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan.
baca juga: Prabowo Ungkap Rencana Sulap Kapal Induk Giuseppe Garibaldi Jadi Kekuatan Baru Penanganan Bencana
Bukan Sekadar Kapal Induk, Garibaldi Dipersiapkan sebagai Pangkalan Udara Terapung
Kehadiran Giuseppe Garibaldi menarik perhatian karena untuk pertama kalinya Indonesia memiliki kapal dengan kemampuan operasi udara dari laut dalam skala kapal induk.
Namun, penting dicatat bahwa Garibaldi bukan kapal induk super seperti kapal-kapal kelas Nimitz atau Gerald R. Ford milik Amerika Serikat. Kapal Italia ini merupakan kapal induk ringan yang dirancang untuk mengoperasikan pesawat STOVL dan helikopter.
Giuseppe Garibaldi mulai beroperasi pada 1985. Kapal tersebut memiliki panjang sekitar 180,2 meter, kecepatan maksimum sekitar 30 knot atau 56 kilometer per jam, serta jangkauan hingga sekitar 7.000 mil laut.
Dalam konfigurasi aslinya, kapal tersebut dirancang untuk mendukung operasi pesawat dan helikopter. Sistem pertahanan yang pernah digunakan di dalamnya mencakup peluncur rudal antipesawat, sistem meriam pertahanan udara, torpedo serta sejumlah perangkat elektronik dan radar.
Artinya, nilai strategis Garibaldi bagi Indonesia bukan semata-mata terletak pada persenjataan yang dibawanya, melainkan pada kemampuan menyediakan pangkalan udara bergerak di laut.
Dari Italia ke Indonesia: Statusnya Hibah, Bukan Pembelian Konvensional
Akuisisi Giuseppe Garibaldi juga memiliki mekanisme yang cukup berbeda dibandingkan pembelian alutsista pada umumnya.
Pada Juli 2026, Komisi I DPR RI menyetujui penerimaan kapal tersebut melalui skema hibah dari Pemerintah Italia kepada Kementerian Pertahanan RI.
Nilai kapal yang tercantum dalam persetujuan DPR mencapai sekitar 54 juta euro. Persetujuan tersebut sekaligus disertai penekanan agar pemanfaatan kapal tidak berhenti pada penggunaan alutsista, tetapi menghasilkan peningkatan kemampuan personel, doktrin dan industri pertahanan Indonesia.
Dengan demikian, biaya strategis Indonesia tidak hanya berkaitan dengan penerimaan kapal, tetapi juga dengan proses refurbishment, pemeliharaan, pelatihan awak, modernisasi sistem serta pengembangan infrastruktur pendukung.
Kekuatan Utama: 10 Helikopter dan Operasi Drone
Konsep penggunaan yang disampaikan pemerintah menunjukkan bahwa Indonesia tidak mengejar konsep kapal induk konvensional dengan armada jet tempur besar.
Garibaldi justru diarahkan menjadi helikopter carrier dan drone carrier.
Kemampuan ini dapat memberikan sejumlah keuntungan.
Pertama, kapal dapat menjadi pangkalan udara bergerak ketika Indonesia menghadapi bencana di wilayah kepulauan yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Kedua, helikopter dapat digunakan untuk operasi pencarian dan penyelamatan, evakuasi korban, distribusi logistik, pemadaman kebakaran serta dukungan operasi kemanusiaan.
Ketiga, integrasi drone dapat memperluas kemampuan intelligence, surveillance and reconnaissance (ISR) atau intelijen, pengawasan dan pengintaian.
Dalam konteks negara kepulauan dengan wilayah laut yang sangat luas, konsep tersebut memiliki nilai strategis tersendiri.
Presiden Prabowo bahkan menyebut setiap helikopter kelas menengah yang dioperasikan dari kapal tersebut dapat membawa sekitar 4–5 ton air untuk membantu operasi pemadaman kebakaran.
Teknologi Lama, Tetapi Bisa Mendapat Peran Baru
Salah satu tantangan terbesar adalah usia kapal.
Garibaldi bukan kapal baru. Kapal tersebut telah menjalani masa panjang sebagai bagian dari armada Italia sebelum akhirnya memasuki fase baru bersama Indonesia.
Karena itu, modernisasi menjadi faktor penentu.
Indonesia harus memastikan sistem propulsi, kelistrikan, sensor, komunikasi, dek penerbangan, hanggar, fasilitas pemeliharaan serta sistem keselamatan kapal berada dalam kondisi yang sesuai dengan kebutuhan operasional.
DPR juga menekankan agar penerimaan kapal tersebut menjadi momentum transfer pengetahuan dan teknologi. Industri pertahanan nasional didorong ikut terlibat sehingga pengalaman mengoperasikan kapal induk tidak hanya berhenti pada TNI AL, tetapi dapat menjadi modal bagi pengembangan kemampuan galangan dan industri pertahanan Indonesia.
Dengan kata lain, Garibaldi dapat menjadi sekolah terapung bagi Indonesia untuk mempelajari operasi kapal induk.
Pengalaman mengelola penerbangan dari kapal, perawatan pesawat dan helikopter, manajemen dek penerbangan, logistik, keselamatan serta koordinasi armada merupakan kemampuan yang selama ini belum dimiliki Indonesia dalam skala tersebut.
Mengapa Kapal Induk Penting bagi Indonesia?
Secara geografis, Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki wilayah laut sangat luas dan berada di persimpangan jalur perdagangan dunia.
Sejumlah kawasan strategis seperti Selat Malaka, Laut Natuna Utara, Selat Sunda, Selat Lombok dan jalur laut menuju Pasifik memiliki arti penting bagi kepentingan nasional.
Kapal induk atau kapal induk helikopter memungkinkan Indonesia mengoperasikan kekuatan udara tanpa harus sepenuhnya bergantung pada pangkalan udara di daratan.
Dalam situasi bencana, kapal dapat bergerak menuju wilayah terdampak.
Dalam operasi pertahanan, kapal dapat menjadi pusat komando sekaligus pangkalan bagi helikopter dan drone.
Sementara dalam operasi kemanusiaan, kapal dapat berfungsi sebagai platform logistik bergerak.
Konsep inilah yang membuat Garibaldi memiliki nilai strategis meskipun kemampuan tempurnya tidak dapat dibandingkan dengan kapal induk modern berukuran besar.
Dampaknya terhadap Peta Kekuatan Asia Tenggara
Kehadiran Garibaldi juga memiliki dimensi geopolitik.
Indonesia diproyeksikan menjadi negara kedua di Asia Tenggara yang mengoperasikan kapal induk, setelah Thailand dengan HTMS Chakri Naruebet. Analisis kawasan dari RSIS juga menempatkan kedatangan Garibaldi sebagai perubahan penting dalam transformasi kekuatan TNI AL.
Meski demikian, kehadiran satu kapal induk ringan tidak otomatis membuat Indonesia menjadi kekuatan laut dominan di Asia Tenggara.
Kapal induk membutuhkan ekosistem besar agar dapat beroperasi secara efektif.
Dibutuhkan kapal pengawal, kapal logistik, kapal tanker, sistem pertahanan udara, kapal selam, pesawat pengintai, helikopter, drone, jaringan komunikasi serta pangkalan pendukung.
Karena itu, tantangan sebenarnya bukan hanya memiliki kapal induk, tetapi bagaimana Indonesia membangun carrier strike capability atau kemampuan gugus tempur yang dapat melindungi kapal tersebut dan membuatnya mampu beroperasi dalam jangka panjang.
Laut China Selatan dan Natuna Menjadi Konteks Strategis
Kehadiran Garibaldi juga tidak bisa dilepaskan dari dinamika keamanan Indo-Pasifik.
Indonesia bukan negara pengklaim utama dalam sengketa Laut China Selatan, tetapi kepentingan Indonesia bersinggungan dengan kawasan tersebut, khususnya di sekitar Laut Natuna Utara.
China sendiri memiliki klaim luas di Laut China Selatan yang bersinggungan dengan kepentingan beberapa negara Asia Tenggara.
Dalam konteks tersebut, kapal induk helikopter dan drone dapat memberikan Indonesia tambahan kemampuan untuk melakukan pengawasan wilayah laut, mendukung operasi keamanan maritim dan memperkuat respons terhadap berbagai ancaman nonkonvensional.
Sejumlah analis yang dikutip CNA menilai teknologi drone dapat memberikan manfaat penting bagi Indonesia, termasuk untuk pengawasan wilayah, pemberantasan penangkapan ikan ilegal, penyelundupan dan pemantauan perbatasan maritim. Namun, analis lain mengingatkan bahwa negara-negara di kawasan tetap dapat melihat kapal induk sebagai bagian dari peningkatan kemampuan militer Indonesia.
Tidak Otomatis Memicu Perlombaan Senjata
Meskipun simboliknya besar, kemampuan Garibaldi tetap memiliki keterbatasan.
Usianya yang sudah puluhan tahun dan desain yang berasal dari era sebelumnya membuat kapal ini tidak dapat disejajarkan dengan kapal induk generasi terbaru yang memiliki sistem tempur, sensor, pesawat dan kemampuan jaringan jauh lebih modern.
Karena itu, sejumlah analis menilai kehadiran Garibaldi belum tentu mengubah keseimbangan militer Asia Tenggara secara drastis.
Justru yang lebih menentukan adalah bagaimana Indonesia mengintegrasikan kapal tersebut dengan sistem pertahanan yang sudah dimiliki.
Jika Garibaldi mampu diintegrasikan dengan drone, helikopter, kapal perang permukaan, kapal selam, pesawat patroli maritim dan sistem komando modern, nilai strategisnya akan jauh lebih besar daripada sekadar ukuran kapal.
Garibaldi dan Masa Depan Industri Pertahanan Indonesia
Ada satu aspek yang mungkin lebih penting daripada status Indonesia sebagai negara pemilik kapal induk.
Yakni penguasaan teknologi dan pengalaman.
Komisi I DPR secara khusus meminta agar kapal tersebut menjadi sarana lesson learned, transfer pengetahuan dan teknologi bagi TNI, Kementerian Pertahanan serta industri pertahanan nasional.
Bagi Indonesia, pengalaman tersebut dapat menjadi fondasi untuk menjawab pertanyaan yang lebih besar: apakah suatu hari Indonesia mampu membangun sendiri kapal perang berukuran besar dengan kemampuan operasi udara?
Garibaldi dapat menjadi tahap awal menuju tujuan tersebut.
Tantangan Terbesar Ada Setelah Kapal Tiba
Sorotan publik selama ini banyak tertuju pada kapan Garibaldi tiba di Indonesia.
Namun, pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apa yang terjadi setelah kapal tersebut tiba.
Indonesia harus membangun doktrin operasi kapal induk, menyiapkan awak dalam jumlah besar, menyediakan fasilitas perawatan, memastikan ketersediaan suku cadang, membangun sistem logistik dan menentukan jenis helikopter serta drone yang akan menjadi kekuatan udara utamanya.
Selain itu, biaya operasional kapal besar juga tidak kecil.
Karena itu, keberhasilan program Garibaldi tidak seharusnya diukur dari seremoni kedatangan kapal.
Ukuran keberhasilannya adalah apakah Indonesia mampu mengoperasikannya secara rutin, aman, efektif dan terintegrasi dengan seluruh sistem pertahanan nasional.
Babak Baru Kekuatan Maritim Indonesia
Kedatangan Giuseppe Garibaldi menandai perubahan penting dalam sejarah TNI AL.
Indonesia untuk pertama kalinya memasuki dunia operasi kapal induk.
Namun Garibaldi bukan sekadar simbol kekuatan militer.
Jika dimodifikasi sesuai rencana pemerintah, kapal ini dapat menjadi pangkalan helikopter bergerak, pusat operasi drone, sarana bantuan bencana, pusat komando dan platform untuk meningkatkan kemampuan personel serta industri pertahanan nasional.
Di tengah meningkatnya persaingan strategis di Indo-Pasifik, kehadiran kapal tersebut juga mengirimkan pesan bahwa Indonesia ingin memperkuat kapasitas maritimnya.
Pada akhirnya, nilai Giuseppe Garibaldi tidak hanya ditentukan oleh usia, ukuran atau jumlah persenjataan yang dimilikinya, tetapi oleh kemampuan Indonesia mengubah kapal bekas Italia tersebut menjadi bagian dari ekosistem pertahanan maritim modern.
Jika proses modernisasi, pelatihan dan integrasi teknologi berjalan sesuai rencana, Garibaldi dapat menjadi lebih dari sekadar kapal induk pertama Indonesia.
Ia bisa menjadi titik awal transformasi besar kekuatan laut Indonesia di Asia Tenggara.
Data Singkat Giuseppe Garibaldi
- Nama: Giuseppe Garibaldi
- Asal: Italia
- Operator sebelumnya: Angkatan Laut Italia
- Rencana Indonesia: KRI Gajah Mada
- Jenis: Kapal induk ringan/STOVL
- Panjang: sekitar 180,2 meter
- Kecepatan maksimum: sekitar 30 knot
- Jangkauan: sekitar 7.000 mil laut
- Konfigurasi Indonesia: kapal induk helikopter dan drone
- Kapasitas yang disebut pemerintah: hingga 10 helikopter kelas menengah
- Fungsi yang diproyeksikan: pertahanan, pengawasan, operasi udara, logistik, bantuan bencana dan kemanusiaan
- Status terbaru: sedang dalam perjalanan dari Italia menuju Indonesia dan ditargetkan tiba sekitar 15–20 September 2026.
kaje/red











