Sleman – Gelombang boikot terhadap RANS Carnival 2026 di kawasan Stadion Maguwoharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menjadi sorotan setelah sejumlah musisi dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memutuskan menarik diri dari acara tersebut.
Kontroversi yang menyeret nama Raffi Ahmad itu bermula dari kehadirannya dalam Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, pada Kamis, 29 Oktober 2026.
Dampaknya merembet ke RANS Carnival yang berlangsung pada Sabtu hingga Minggu, 31 Oktober–1 November 2026. Sejumlah pengisi acara membatalkan penampilan, sementara sejumlah tenant UMKM memilih tidak melanjutkan partisipasi.
Mengutip laporan The Jakarta Post, Minggu, 1 November 2026, sedikitnya 12 pedagang makanan mengumumkan pengunduran diri melalui platform Threads. Beberapa pedagang bahkan telah menyiapkan bahan dagangan sebelum akhirnya memutuskan menarik diri.
baca juga: Raffi Ahmad Klarifikasi Deklarasi Sumpah Pemuda Bundaran HI: “Saya Hanya Undangan”
Situasi tersebut memperlihatkan bagaimana kontroversi yang melibatkan figur publik dapat merembet ke kegiatan bisnis dan pihak-pihak lain yang terlibat di dalamnya.
Kontroversi Raffi Ahmad Berawal dari Deklarasi Sumpah Pemuda
Polemik bermula ketika Raffi Ahmad menghadiri Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Kamis, 29 Oktober 2026.
Kehadiran Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni tersebut menuai kritik karena berlangsung sehari setelah demonstrasi mahasiswa pada Rabu, 28 Oktober 2026.
Sebagian warganet mempertanyakan konteks kegiatan deklarasi tersebut. Di media sosial, muncul tudingan bahwa acara itu merupakan aksi tandingan terhadap demonstrasi mahasiswa sehari sebelumnya.
Namun, tudingan tersebut perlu dibedakan dari keterangan resmi penyelenggara.
Mengutip pemberitaan Antara yang dipublikasikan melalui Tribrata News Polri pada 29 Oktober 2026, deklarasi tersebut digelar Polda Metro Jaya bersama mahasiswa dan tokoh masyarakat dengan tujuan memperkuat persatuan generasi muda serta menangkal hoaks, ujaran kebencian, dan provokasi di media sosial.
Dalam kegiatan itu, Raffi Ahmad turut menyampaikan pesan agar generasi muda tidak mudah terpecah belah akibat informasi yang tidak benar.
Meski demikian, kehadirannya tetap menjadi perbincangan dan memicu kritik publik yang kemudian berkembang menjadi seruan boikot terhadap RANS Carnival.
Tipe-X hingga Guyon Waton Memilih Mundur
Dampak kontroversi terlihat dari keputusan sejumlah musisi yang sebelumnya dijadwalkan tampil di RANS Carnival.
Mengutip laporan Tirto, Sabtu, 31 Oktober 2026, empat nama yang mengumumkan pengunduran diri adalah Tipe-X, Guyon Waton, OM Wawes, dan Masdddho.
Grup musik Tipe-X menyampaikan keputusan mundur melalui akun Instagram resminya, @tipexofficial.
“Kita mundur dari acara ini, sampai jumpa di lain pesta. Salam X,” tulis Tipe-X dalam pengumumannya.
Sementara itu, manajemen Guyon Waton menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan situasi dan pembicaraan yang berkembang di media sosial.
Dalam pernyataan resminya, manajemen Guyon Waton menyebut keputusan mundur bukan untuk menyudutkan pihak tertentu, melainkan sebagai upaya menjaga keamanan, kenyamanan, dan hubungan baik dengan seluruh pihak.
Sikap serupa disampaikan OM Wawes. Mengutip laporan Republika, grup musik asal Yogyakarta itu memilih mundur dengan mempertimbangkan perkembangan situasi dan perasaan masyarakat setempat.
Vokalis sekaligus pendiri OM Wawes, Gaseng, mengatakan pihaknya merasa perlu mengambil sikap dengan mengedepankan hati nurani.
Adapun Masdddho menyampaikan bahwa keputusan membatalkan penampilan merupakan bentuk kepekaan terhadap suara masyarakat.
Dengan demikian, meskipun pengunduran diri para musisi terjadi dalam momentum seruan boikot yang sama, alasan yang disampaikan masing-masing pihak tidak sepenuhnya identik.
Sejumlah UMKM Ikut Menarik Diri
Gelombang pengunduran diri tidak hanya melibatkan musisi. Sejumlah pelaku UMKM yang sebelumnya telah terdaftar sebagai tenant RANS Carnival juga memilih membatalkan keikutsertaan.
The Jakarta Post melaporkan sedikitnya 12 pedagang makanan mengumumkan pengunduran diri melalui Threads menjelang pelaksanaan acara.
Sementara itu, detikFood, Minggu, 1 November 2026, memberitakan sejumlah gerai kuliner yang menarik diri, di antaranya Roti Gembong Gedhe, Klepon Gendhis, Pisang Madu Nyonya, Kalapaa, Ayam Tetanggamu, dan Jeruk Lokal Maguwoharjo.
Dalam laporan tersebut, beberapa pelaku usaha mengaku telah menyiapkan produk dan bahan dagangan sebelum memutuskan tidak mengikuti kegiatan.
Salah satunya Roti Gembong Gedhe. Melalui akun Threads resminya, pihak usaha tersebut menyampaikan bahwa sejumlah roti sudah telanjur diproduksi dalam jumlah besar. Stok kemudian dialihkan untuk dijual melalui cabang mereka.
Menariknya, keputusan sejumlah UMKM untuk mundur justru mendapat respons solidaritas dari warganet.
detikFood juga melaporkan adanya konsumen yang mendatangi gerai-gerai UMKM tersebut untuk membantu membeli produk yang sudah disiapkan. Bahkan, sebagian pembeli menitipkan makanan untuk dibagikan kepada pengemudi ojek online dan masyarakat sekitar.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa polemik RANS Carnival tidak hanya berkembang sebagai persoalan hiburan, tetapi juga memunculkan solidaritas konsumen terhadap pelaku usaha kecil.
Meski demikian, besaran kerugian yang dialami para pedagang belum dapat dipastikan karena belum tersedia perhitungan resmi dari masing-masing pelaku usaha.
Raffi Ahmad Akhirnya Menyampaikan Permohonan Maaf
Di tengah meluasnya kritik, Raffi Ahmad akhirnya memberikan klarifikasi melalui video yang diunggah di akun media sosial pribadinya.
Mengutip laporan detikHot, Minggu, 1 November 2026, Raffi menjelaskan bahwa kehadirannya dalam Deklarasi Sumpah Pemuda pada 29 Oktober lalu merupakan undangan dari Polda Metro Jaya selaku penyelenggara.
Ia menegaskan tidak memiliki niat untuk merendahkan ataupun mencederai semangat perjuangan generasi muda.
Raffi juga menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang muncul setelah kehadirannya dalam kegiatan tersebut.
“Saya mohon maaf dari hati saya atas kegaduhan yang timbul dari kehadiran saya,” ujar Raffi dalam pernyataan videonya.
Ia mengaku menghargai berbagai kritik, pandangan, dan masukan masyarakat. Menurutnya, kejadian tersebut menjadi pembelajaran agar dirinya lebih teliti memahami informasi serta berhati-hati sebelum menghadiri suatu kegiatan.
Raffi juga berharap penjelasan yang disampaikannya dapat membantu memperjelas situasi yang sebenarnya terjadi.
Polda Metro Jaya Beri Penjelasan dan Minta Maaf
Selain Raffi Ahmad, Polda Metro Jaya juga memberikan penjelasan mengenai pelaksanaan deklarasi yang menjadi awal polemik.
Mengutip laporan detikNews, Minggu, 1 November 2026, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto menegaskan bahwa Raffi Ahmad dan kreator konten Willie Salim hadir sebagai tamu undangan dari pihak kepolisian.
Budi juga membantah bahwa deklarasi tersebut dimaksudkan sebagai aksi tandingan terhadap demonstrasi mahasiswa sehari sebelumnya.
Terkait munculnya dugaan peserta yang bukan mahasiswa, Budi menyatakan bahwa hal tersebut sedang dalam penyelidikan kepolisian.
Polda Metro Jaya turut menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat dan menyatakan menerima kritik sebagai bahan evaluasi.
Penjelasan tersebut menjadi bagian penting dalam pemberitaan agar polemik tidak hanya dilihat dari respons warganet, tetapi juga mencakup keterangan pihak penyelenggara dan figur publik yang terlibat.
Polresta Sleman Bantah Isu Pengerahan Massa
Di tengah ramainya seruan boikot, muncul pula pesan berantai di media sosial yang menyebut adanya pengerahan warga dan pembagian uang belanja Rp50.000 untuk meramaikan RANS Carnival.
Namun, informasi tersebut dibantah oleh kepolisian.
Mengutip laporan Harian Jogja, Minggu, 1 November 2026, Kapolresta Sleman AKBP Dhimas Prasetyo menegaskan bahwa kehadiran personel kepolisian di lokasi hanya untuk menjalankan tugas pengamanan atas permintaan penyelenggara.
Ia membantah adanya pengerahan massa sebagaimana disebutkan dalam pesan berantai tersebut.
Kasi Humas Polresta Sleman Iptu Argo Anggoro juga menyampaikan bantahan serupa.
Keterangan ini penting untuk meluruskan informasi yang beredar agar masyarakat tidak mencampuradukkan isu boikot dengan tudingan pengerahan massa yang telah dibantah kepolisian.
Kontroversi Figur Publik dan Dampaknya terhadap UMKM
Polemik RANS Carnival menjadi gambaran bagaimana reputasi figur publik dapat berhubungan erat dengan kegiatan bisnis dan hiburan yang melibatkan banyak pihak.
Ketika kontroversi muncul, respons masyarakat tidak selalu berhenti pada kritik terhadap individu. Dampaknya dapat meluas ke acara, mitra kerja, pengisi hiburan, hingga pelaku UMKM yang terlibat.
Di sisi lain, keputusan musisi dan pedagang untuk mundur juga perlu dipahami berdasarkan pernyataan masing-masing, bukan semata-mata diseragamkan sebagai bentuk dukungan terhadap satu gerakan.
Klarifikasi Raffi Ahmad dan penjelasan Polda Metro Jaya telah memberikan perspektif dari pihak yang terlibat dalam deklarasi. Namun, respons publik terhadap persoalan tersebut tetap menjadi bagian dari dinamika kebebasan menyampaikan aspirasi.
Pada akhirnya, peristiwa RANS Carnival menunjukkan bahwa kepercayaan publik menjadi salah satu faktor penting dalam keberlangsungan kegiatan komersial yang melibatkan figur publik.
Publik berhak menyampaikan kritik dan menentukan sikap. Namun, setiap informasi mengenai polemik tersebut tetap perlu disajikan berdasarkan fakta, keterangan yang dapat diverifikasi, dan ruang klarifikasi bagi semua pihak.