DuniaLifestyle

Chloé Jafé Menembus Dunia Yakuza Jepang, Mengungkap Kehidupan Perempuan di Balik Sindikat yang Tertutup

×

Chloé Jafé Menembus Dunia Yakuza Jepang, Mengungkap Kehidupan Perempuan di Balik Sindikat yang Tertutup

Sebarkan artikel ini
Wanita Yakuza jepang
Dalam dunia subkultur Jepang, tato naga sering digunakan oleh anggota atau wanita yang memiliki hubungan dengan kelompok kejahatan terorganisir sebagai simbol keberanian dan komitmen, meskipun di era modern seni tato ini juga populer secara luas sebagai ekspresi seni pribadi.

PARAGRAFNEWS.CO — Ketika Yakuza Jepang dibicarakan, perhatian publik biasanya tertuju pada laki-laki, tato tradisional, ritual kelompok, konflik antarklan, hingga gambaran dunia kriminal dalam film.

Namun, ada sisi lain yang jauh lebih jarang terlihat: kehidupan perempuan yang berada di sekitar dunia Yakuza.

Istri, anak perempuan, kekasih, hingga perempuan yang bekerja atau bersosialisasi di lingkungan tersebut selama bertahun-tahun lebih sering menjadi karakter sampingan dalam cerita tentang Yakuza.

Fotografer asal Prancis, Chloé Jafé, mencoba melihat sisi tersebut melalui proyek fotografi I Give You My Life, atau dalam bahasa Jepang Inochi Azukemasu (命預けます).

Proyek ini bukan hasil kunjungan singkat ke Jepang. Jafé menjalani proses panjang untuk mempelajari bahasa, memahami lingkungan sosial, membangun relasi, hingga akhirnya memperoleh akses ke lingkungan yang sangat tertutup.

Menurut situs resmi Jafé, ia pindah ke Tokyo pada 2013 dengan tujuan bertemu perempuan yang berada dalam lingkungan Yakuza. Ia kemudian menghabiskan sekitar satu tahun memperdalam bahasa Jepang, bekerja sebagai hostess di sebuah bar, dan menjelajahi kawasan hiburan malam Tokyo sebelum akhirnya mendapatkan akses melalui sebuah pertemuan dengan seorang bos Yakuza.

Siapa Chloé Jafé?

Chloé Jafé merupakan fotografer Prancis yang banyak mengerjakan proyek dokumenter mengenai kelompok sosial yang berada di luar arus utama.

Ia tinggal di Jepang selama sekitar tujuh tahun dan mengembangkan sejumlah proyek fotografi yang kemudian menjadi bagian dari trilogi karyanya.

Situs resmi Jafé mencatat bahwa proyek mengenai perempuan Yakuza tersebut memperoleh Bourse du Talent pada 2017 dan dipamerkan di Bibliothèque nationale de France. Karya tersebut kemudian berkembang menjadi bagian pertama dari trilogi yang juga mencakup Okinawa Mon Amour dan How I Met Jiro.

Ketertarikannya terhadap perempuan Yakuza bermula dari pertanyaan sederhana: apakah perempuan yang selama ini muncul dalam film dan cerita mengenai Yakuza benar-benar menjalani kehidupan seperti yang digambarkan budaya populer?

Dalam wawancara yang diterbitkan September 2026, Jafé mengatakan bahwa setelah beberapa kali melakukan perjalanan ke Jepang, ia semakin tertarik untuk memahami sisi negara tersebut yang tidak terlihat di permukaan.

Ia kemudian menemukan bahwa cerita tentang Yakuza sangat banyak, sementara informasi mengenai perempuan di lingkungan tersebut jauh lebih sedikit. Dari situlah proyek I Give You My Life berkembang.

Perjalanan panjang masuk ke lingkungan Yakuza

Mendapatkan akses ke lingkungan Yakuza bukan perkara mudah.

Jafé sendiri menggambarkan proses tersebut sebagai perjalanan yang panjang dan sulit.

Ia terlebih dahulu mempelajari bahasa Jepang dan berusaha memahami norma sosial yang berlaku. Ia kemudian bekerja sebagai hostess di Tokyo dan menghabiskan waktu di kawasan hiburan malam untuk memperluas jaringan pertemanan.

Wanita Yakuza Jepang
Gambar ini memperlihatkan seorang wanita yang tampak dari belakang, duduk di atas tempat tidur dengan tubuh penuh tato bergaya tradisional Jepang (Irezumi). Nama file foto ini mengarah pada Wanita Yakuza (Gokutsuma atau Anegam), sebuah konsep yang memadukan budaya tato tradisional Jepang dengan sejarah sindikat kejahatan Yakuza. / sc

Menurut Jafé, langkah tersebut diperlukan karena ia menyadari bahwa dirinya tidak bisa begitu saja datang dan meminta perempuan Yakuza menjadi objek fotografi.

Situs resminya mencatat bahwa setelah bertahun-tahun menjalani proses tersebut, Jafé akhirnya memperoleh akses melalui pertemuan dengan seorang bos Yakuza. Dari hubungan itu, ia kemudian dapat bertemu dengan istri, anak perempuan dan perempuan lain yang berada di sekitar lingkungan kelompok tersebut.

Media I-D juga melaporkan bahwa Jafé akhirnya bertemu seorang oyabun, istilah Jepang yang digunakan untuk menyebut bos atau figur pimpinan, dalam sebuah matsuri atau festival.

Pertemuan tersebut kemudian membuka jalan bagi Jafé untuk mengenal lebih jauh lingkungan yang selama ini ingin ia dokumentasikan.

Perempuan Yakuza: anggota atau bagian dari lingkungan?

Salah satu hal yang penting diluruskan dalam membahas proyek Jafé adalah penggunaan istilah “perempuan Yakuza”.

Istilah tersebut tidak otomatis berarti perempuan yang ia foto merupakan anggota formal organisasi kriminal.

Dalam wawancara dan laporan mengenai proyek tersebut, perempuan yang didokumentasikan Jafé lebih banyak digambarkan sebagai istri, anak perempuan, kekasih, atau perempuan yang berada dalam lingkungan sosial Yakuza.

I-D mencatat bahwa istri Yakuza yang ditemui Jafé berada di luar aktivitas kriminal formal organisasi. Mereka dapat mempunyai peran dalam kehidupan keluarga dan lingkungan sosial, tetapi tidak ditempatkan sebagai anggota aktif organisasi.

Karena itu, judul populer seperti “wanita Yakuza” perlu dibaca dalam konteks proyek fotografi Jafé, bukan sebagai klaim bahwa seluruh perempuan yang difotonya merupakan anggota sindikat kriminal.

Pembedaan ini penting agar dokumentasi tersebut tidak berubah menjadi penyederhanaan.

Kehidupan perempuan dalam struktur yang didominasi laki-laki

Melalui pertemuan dengan para perempuan tersebut, Jafé menemukan sebuah lingkungan sosial yang sangat dipengaruhi struktur patriarkal.

Dalam wawancara yang dimuat Dazed, Jafé menjelaskan bahwa perempuan tidak memiliki posisi sebagai anggota Yakuza dalam pengertian formal.

Sebaliknya, mereka berada dalam peran seperti istri atau pasangan dan dapat memberikan dukungan emosional maupun menjalankan berbagai urusan domestik serta sosial.

I-D juga menyoroti bagaimana para istri dapat mempunyai peran dalam mengelola keuangan keluarga, menyelesaikan persoalan internal, dan memberikan dukungan emosional, tetapi tetap berada di luar keanggotaan formal kelompok.

Di sinilah proyek Jafé menjadi menarik.

Ia tidak hanya memotret dunia kriminal, tetapi juga hubungan sosial yang tumbuh di sekelilingnya.

Irezumi, tato yang menjadi bagian penting proyek

Salah satu elemen paling mencolok dalam karya I Give You My Life adalah irezumi, seni tato tradisional Jepang yang secara historis memiliki hubungan kuat dengan citra Yakuza.

Dalam proyek Jafé, tato bukan hanya elemen visual.

Ia menjadi bagian dari cerita personal para perempuan yang difoto.

Beberapa perempuan memperlihatkan tubuh bertato dan menceritakan alasan mereka memilih tato tersebut. Jafé bahkan meminta para perempuan menulis surat mengenai tato dan pengalaman pribadi mereka. Tulisan tersebut kemudian menjadi bagian dari proyek bukunya.

Salah satu cerita yang dipublikasikan di situs resmi Jafé berasal dari seorang perempuan bernama Yuko.

Ia mengatakan bahwa dirinya lahir dan dibesarkan dalam keluarga Yakuza serta memilih tato setelah mengalami pengalaman sebagai ibu dan perceraian. Bagi Yuko, tato tersebut menjadi simbol kebanggaan sekaligus perlindungan dirinya.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa makna tato tidak bisa disamaratakan.

Tato pada tubuh seseorang dapat memiliki arti yang sangat personal dan tidak selalu identik dengan keanggotaan kriminal.

Mengapa tato masih sensitif di Jepang?

Hubungan antara tato dan Yakuza membuat tato memiliki sejarah sosial yang kompleks di Jepang.

Dalam wawancara dengan Dazed, Jafé menjelaskan bahwa tato tidak selalu dipandang sebagai sekadar fashion. Bagi sebagian masyarakat Jepang, tato masih membawa stigma dan dapat membuat seseorang dianggap berada di luar norma sosial arus utama.

Karena itu, keberanian perempuan dalam proyek Jafé untuk memperlihatkan tato mereka mempunyai konteks sosial yang lebih luas.

Tubuh menjadi ruang untuk menceritakan identitas, hubungan, pengalaman dan pilihan hidup.

Pada titik tersebut, fotografi Jafé bergerak dari sekadar dokumentasi mengenai Yakuza menjadi dokumentasi tentang tubuh dan identitas perempuan.

Dari tato menuju kisah personal

Jafé tidak berhenti pada pengambilan gambar.

Ia membangun pertukaran cerita dengan para perempuan yang menjadi subjeknya.

Dalam wawancara I-D, Jafé mengatakan bahwa ia mengundang para perempuan untuk menulis surat tentang tato mereka. Surat tersebut kemudian menjadi bagian dari buku I Give You My Life.

Metode tersebut membuat subjek fotografi tidak sepenuhnya pasif.

Mereka mempunyai kesempatan menjelaskan sendiri arti pengalaman yang terlihat melalui tubuh mereka.

Pendekatan ini juga memperlihatkan bahwa proyek Jafé tidak dimaksudkan hanya untuk menghasilkan gambar dramatis tentang dunia kriminal.

Ia mencoba memahami manusia yang berada di balik gambar tersebut.

Dari proyek dokumenter menjadi karya fotografi

I Give You My Life berkembang menjadi salah satu karya utama Jafé.

Situs resminya mencatat bahwa proyek tersebut merupakan bagian pertama dari trilogi dan kemudian diterbitkan dalam berbagai bentuk buku serta dipamerkan di sejumlah ruang fotografi dan seni.

Pada 2017, proyek tersebut mendapatkan Bourse du Talent dan dipamerkan di Bibliothèque nationale de France.

Pengakuan tersebut menempatkan karya Jafé bukan hanya sebagai cerita mengenai Yakuza, tetapi juga sebagai bagian dari diskursus fotografi dokumenter dan seni kontemporer.

Pada 2023, karya I Give You My Life juga masuk dalam proyek trilogi SAKASA, bersama Okinawa Mon Amour dan How I Met Jiro. Situs resmi Jafé mencatat publikasi trilogi tersebut oleh The(M) Editions dan IBASHO.

Bukan sekadar cerita tentang mafia Jepang

Ada risiko ketika karya seperti ini hanya dibaca sebagai “foto kehidupan mafia Jepang”.

Pembacaan tersebut terlalu sempit.

Jafé memang masuk ke lingkungan Yakuza, tetapi fokus utamanya adalah perempuan yang berada di sekitar lingkungan tersebut.

Ia mendokumentasikan hubungan mereka dengan pasangan, keluarga, tubuh, tato, cinta, kesetiaan, hingga pilihan hidup.

I-D menggambarkan karya tersebut sebagai dokumentasi kehidupan perempuan yang selama ini jarang terlihat dalam cerita tentang Yakuza.

Dengan kata lain, Yakuza menjadi konteks, sementara pengalaman manusia menjadi pusat cerita.

Mengapa Chloé Jafé membutuhkan waktu bertahun-tahun?

Proyek ini memperlihatkan satu prinsip penting dalam fotografi dokumenter: akses dan kepercayaan tidak bisa dibangun secara instan.

Jafé tidak datang ke Jepang dengan akses langsung kepada para subjek.

Ia mempelajari bahasa, bekerja di lingkungan yang dapat mempertemukannya dengan orang-orang yang relevan, mengalami sejumlah kegagalan, dan membutuhkan waktu sebelum mendapatkan kepercayaan.

Dalam wawancara September 2026, Jafé kembali menjelaskan bahwa ia akhirnya tinggal di Jepang selama tujuh tahun. Ia mengatakan bahwa semakin lama berada di Jepang, semakin kuat keinginannya memahami sisi kehidupan yang sebelumnya tidak terlihat oleh orang luar.

Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari nilai dokumenter proyeknya.

Apa yang sebenarnya diungkap proyek ini?

Jika dilepaskan dari sensasi dunia kriminal, karya Jafé memperlihatkan setidaknya tiga hal.

Pertama, Yakuza memiliki lingkungan sosial yang lebih luas daripada anggota organisasinya.

Ada keluarga dan orang-orang terdekat yang menjalani kehidupan mereka di sekitar kelompok tersebut.

Kedua, perempuan memiliki posisi yang kompleks.

Mereka bukan anggota formal dalam struktur yang didokumentasikan Jafé, tetapi dapat mempunyai peran penting dalam kehidupan keluarga dan komunitas.

Ketiga, tubuh dan tato menjadi bagian dari narasi identitas.

Irezumi dalam karya Jafé tidak semata-mata menjadi simbol Yakuza. Bagi setiap perempuan, tato dapat mempunyai pengalaman dan makna yang berbeda.

Ketiga hal tersebut membuat proyek ini lebih relevan sebagai dokumentasi sosial daripada sekadar kisah mengenai dunia kriminal Jepang.

Chloé Jafé dan batas antara fotografer dengan subjek

Hal lain yang menarik adalah hubungan antara fotografer dan orang-orang yang difotonya.

Dalam wawancara I-D, Jafé mengatakan bahwa proses tersebut berkembang menjadi pengalaman manusia, bukan hanya pekerjaan fotografi. Ia menggambarkan adanya rasa ingin tahu dari kedua belah pihak.

Hal ini penting dalam fotografi dokumenter.

Fotografer bukan sekadar pengamat yang berdiri jauh dari subjek. Ketika proyek dilakukan dalam jangka panjang, hubungan personal dapat memengaruhi cara subjek membuka diri dan bagaimana fotografer memilih apa yang ditampilkan.

Jafé bahkan menggambarkan batas antara dirinya dan subjek sebagai sesuatu yang menjadi semakin kabur selama proses tersebut.

Karena itu, I Give You My Life juga dapat dibaca sebagai refleksi mengenai sejauh mana seorang fotografer dapat masuk ke kehidupan subjeknya tanpa kehilangan jarak sebagai dokumenter.

Apakah karya ini menggambarkan seluruh perempuan Yakuza?

Tidak.

Ini merupakan salah satu batas penting yang perlu dipahami pembaca.

Proyek Jafé adalah dokumentasi berdasarkan orang-orang yang ia temui dan akses yang berhasil ia dapatkan, bukan penelitian statistik mengenai seluruh perempuan yang berhubungan dengan Yakuza di Jepang.

Karena itu, pengalaman para perempuan dalam buku tersebut tidak dapat secara otomatis dianggap mewakili semua perempuan yang mempunyai hubungan dengan kelompok Yakuza.

Pembedaan antara dokumentasi personal dan gambaran populasi secara keseluruhan menjadi penting agar pembaca tidak menarik kesimpulan terlalu luas dari sebuah proyek fotografi.

Warisan I Give You My Life

Lebih dari satu dekade sejak Jafé memulai perjalanan tersebut, I Give You My Life tetap menjadi karya yang menarik karena menghadirkan sudut pandang yang berbeda mengenai Yakuza.

Situs resmi Jafé hingga kini masih menempatkan proyek tersebut sebagai bagian penting dari portofolionya. Karya mengenai perempuan Yakuza juga menjadi bagian dari perjalanan pameran dan publikasinya di berbagai ruang fotografi.

Pada akhirnya, kekuatan proyek ini bukan terletak pada klaim bahwa seorang fotografer asing berhasil “membongkar rahasia mafia Jepang”.

Nilai dokumenternya justru terdapat pada proses panjang untuk mendapatkan kepercayaan dan kesempatan melihat kehidupan orang-orang yang biasanya tidak terlihat.

Jafé membuka kamera kepada perempuan yang selama ini berada di balik cerita tentang Yakuza.

Dan dari sana muncul pertanyaan yang lebih luas:

Bagaimana seseorang menjalani cinta, keluarga, identitas dan kehidupan pribadi ketika berada di lingkungan sosial yang tertutup dan sangat didominasi laki-laki?

Itulah pertanyaan yang membuat I Give You My Life tetap relevan untuk dibaca sebagai karya fotografi dokumenter, bukan sekadar cerita sensasional mengenai Yakuza Jepang.


Catatan Redaksi Paragrafnews.co

Artikel ini merupakan pembaruan menyeluruh dari artikel lama Paragrafnews.co mengenai proyek fotografi Chloé Jafé.

Dalam penyuntingan ulang ini, Paragrafnews.co membedakan antara informasi yang berasal dari pernyataan langsung Chloé Jafé, dokumentasi di situs resminya, dan pemberitaan media yang membahas proyek tersebut.

Istilah “perempuan Yakuza” digunakan mengikuti konteks karya Jafé dan publikasi yang membahasnya. Istilah tersebut tidak berarti seluruh perempuan yang ditampilkan merupakan anggota formal organisasi Yakuza.

Artikel ini juga tidak dimaksudkan untuk menggeneralisasi pengalaman para subjek fotografi sebagai gambaran seluruh perempuan yang mempunyai hubungan dengan Yakuza di Jepang.

Sumber utama dan rujukan: situs resmi Chloé Jafé; I-D; Dazed; serta wawancara Chloé Jafé yang diterbitkan Midnight Express Magazine pada September 2026.

kaje/red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *