Rusia dilaporkan secara diam-diam memberikan dukungan militer strategis kepada Iran untuk mengembangkan rudal jelajah supersonik. Program rahasia yang diberi sandi C340L ini dirancang khusus untuk mengancam keberadaan kapal induk serta armada kapal perang Amerika Serikat (AS) di kawasan Timur Tengah.
Transfer Teknologi Militer Rahasia Sejak 2023
Berdasarkan hasil investigasi Financial Times (FT) yang dikutip dari The Telegraph, transfer teknologi militer strategis ini diyakini memerlukan otorisasi langsung dari tingkat tertinggi di Kremlin. Program yang dimulai pada tahun 2023 tersebut bertujuan membantu Iran menguasai sistem propulsi ramjet.
Teknologi mesin canggih ini memungkinkan rudal jelajah melaju melampaui kecepatan suara, menyusuri permukaan bumi untuk menghindari deteksi radar, hingga mencapai kecepatan sekitar 3.500 km/jam. Menurut Jim Lamson, mantan analis militer CIA, penguasaan teknologi ini memberikan Iran sistem senjata strategis baru yang secara kualitatif mampu mendobrak pertahanan kapal-kapal Angkatan Laut AS.
Koordinasi Melalui Rosoboronexport dan NPO Mashinostroyenia
Program ini dikelola langsung oleh badan ekspor senjata milik negara Rusia, Rosoboronexport, yang bekerja sama dengan perusahaan roket NPO Mashinostroyenia. Sebagai catatan, NPO Mashinostroyenia sendiri telah berada di bawah sanksi AS sejak tahun 2014.
Pada tahun 2025, NPO Mashinostroyenia tercatat menerima data teknis berskala besar dari Iran mengenai hasil uji coba sistem propulsi ramjet. Tim insinyur senior Rusia bahkan dikabarkan sempat melakukan kunjungan langsung ke Iran sebelum kontrak kerja sama tersebut disepakati pada 2023. Fabian Hinz, seorang pakar rudal Iran, menilai langkah ini sebagai bentuk transfer teknologi militer paling sensitif yang telah diincar Teheran selama berpuluh-puluh tahun.
Aliansi Semakin Erat di Tengah Kecamuk Perang
Hubungan militer antara Moskow dan Teheran kian berjalan dua arah. Sebelumnya, Iran memasok ratusan drone kamikaze jenis Shahed untuk mendukung operasi militer Rusia di Ukraina. Sebagai imbalannya, Rusia memberikan sokongan intelijen bagi Iran guna memetakan pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Profesor Sciences Po University Paris, Nicole Grajewski, menilai bahwa intensifikasi hubungan ini menunjukkan upaya Rusia untuk memperluas cakupan konflik guna memancing keterlibatan AS di berbagai teater pertempuran.
Eskalasi ini kian memanas setelah Presiden Rusia Vladimir Putin menyampaikan komitmennya kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian untuk terus memasok berbagai kebutuhan militer di masa perang.
Ketegangan fisik pun tak terhindarkan setelah pasukan AS menggempur fasilitas peluncur roket Iran di Pulau Larak, Selat Hormuz, yang langsung dibalas oleh Teheran melalui gelombang serangan drone dan rudal ke pangkalan militer AS.
(kaje)











