PARAGRAFNEWS.CO – Teknologi mobil self-driving atau kendaraan yang mampu mengemudi secara otomatis terus berkembang. Jika beberapa tahun lalu teknologi ini masih terdengar seperti konsep masa depan, kini sejumlah produsen otomotif telah menghadirkan sistem bantuan mengemudi dengan kemampuan yang semakin canggih.
Namun, istilah self-driving sering disalahartikan. Tidak semua mobil yang dapat mengerem sendiri, menjaga lajur, berpindah jalur atau mengikuti navigasi dapat disebut sebagai mobil tanpa pengemudi.
Dalam teknologi otomasi kendaraan, kemampuan mobil dibedakan berdasarkan tingkat otomatisasinya. Karena itu, penting bagi konsumen untuk mengetahui perbedaan antara mobil dengan fitur bantuan mengemudi dan kendaraan yang benar-benar mampu mengambil alih seluruh tugas mengemudi dalam kondisi tertentu.
Mengenal Level Teknologi Self-Driving
Secara umum, teknologi otomasi mengemudi dikenal melalui level 0 hingga Level 5.
Pada Level 1, kendaraan memiliki bantuan untuk satu fungsi mengemudi tertentu, misalnya menjaga kecepatan atau membantu kemudi.
Naik ke Level 2, kendaraan dapat membantu mengendalikan kemudi sekaligus akselerasi dan pengereman. Namun, pengemudi tetap harus memperhatikan kondisi jalan dan bertanggung jawab penuh terhadap kendaraan.
Level 3 merupakan tahap yang lebih maju. Dalam kondisi tertentu yang telah ditentukan, sistem dapat mengambil alih tugas mengemudi. Pengemudi tetap harus siap mengambil alih ketika sistem meminta.
Sementara Level 4 memungkinkan kendaraan menjalankan seluruh tugas mengemudi tanpa campur tangan manusia dalam wilayah atau kondisi operasional yang telah ditentukan.
Adapun Level 5 merupakan tingkat otomatisasi tertinggi, ketika kendaraan dapat menjalankan seluruh fungsi mengemudi dalam berbagai kondisi tanpa membutuhkan manusia sebagai pengemudi.
Tesla: Fitur Canggih, Tetapi Masih Membutuhkan Pengawasan
Tesla menjadi salah satu nama yang paling sering dikaitkan dengan teknologi self-driving.
Melalui Full Self-Driving (Supervised), kendaraan Tesla dapat melakukan berbagai manuver seperti mengikuti rute navigasi, berpindah lajur, berbelok dan melakukan parkir secara otomatis.
Meski namanya menggunakan istilah “Full Self-Driving”, teknologi tersebut masih membutuhkan pengawasan aktif pengemudi. Artinya, kendaraan Tesla dengan fitur tersebut belum dapat dianggap sebagai mobil yang sepenuhnya otonom.
Tesla sendiri menegaskan bahwa fitur FSD (Supervised) tidak membuat kendaraan menjadi autonomous dan pengemudi tetap bertanggung jawab selama sistem digunakan.
Mercedes-Benz Sudah Masuk Level 3
Mercedes-Benz menjadi salah satu produsen yang telah membawa teknologi otomasi kendaraan ke tingkat lebih tinggi melalui DRIVE PILOT.
Teknologi tersebut merupakan sistem SAE Level 3 yang memungkinkan kendaraan mengambil alih tugas mengemudi dalam kondisi tertentu dan pada wilayah jalan yang telah disetujui.
Dalam kondisi yang memenuhi persyaratan sistem, pengemudi dapat mengalihkan perhatian dari tugas mengemudi. Namun, ketika sistem meminta pengemudi mengambil alih, manusia tetap harus kembali memegang kendali kendaraan.
Dengan demikian, Level 3 berbeda dari sistem bantuan mengemudi Level 2 yang tetap mengharuskan pengemudi memantau kendaraan secara terus-menerus.
Bukan Hanya Tesla dan Mercedes-Benz
Perkembangan teknologi kendaraan otonom kini melibatkan banyak produsen otomotif dan perusahaan teknologi di berbagai negara.
Berbagai merek telah mengembangkan teknologi seperti adaptive cruise control, lane keeping assistance, automated lane change, traffic jam assist hingga sistem navigasi dan parkir otomatis.
Teknologi tersebut menjadi fondasi menuju kendaraan dengan tingkat otomatisasi yang lebih tinggi.
Namun, konsumen tetap perlu melihat level otomatisasi dan batas operasional dari setiap sistem, bukan hanya nama pemasaran yang digunakan produsen.
Dunia Mulai Menyiapkan Regulasi Mobil Otonom
Perkembangan kendaraan otonom juga mulai diikuti perubahan regulasi.
Pada Juni 2026, UNECE mengadopsi kerangka regulasi global pertama yang memungkinkan pengaturan kendaraan dengan Automated Driving Systems (ADS) yang dapat beroperasi tanpa pengawasan pengemudi dalam kondisi yang memenuhi persyaratan keselamatan.
Kerangka tersebut mencakup antara lain sistem manajemen keselamatan, pengujian, validasi keselamatan, pemantauan kendaraan selama beroperasi serta penyimpanan data yang berkaitan dengan keselamatan.
Langkah ini menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan teknologi kendaraan otonom karena industri otomotif tidak hanya membutuhkan teknologi, tetapi juga standar keselamatan dan aturan yang jelas.
Bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia juga mulai bersiap menghadapi perkembangan kendaraan otonom.
Dalam pembahasan perubahan ketiga Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, pemerintah dan DPR mulai memasukkan perkembangan teknologi kendaraan otonom sebagai salah satu hal yang perlu diakomodasi.
Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa kendaraan otonom mulai dipandang sebagai bagian dari perkembangan transportasi masa depan yang membutuhkan kepastian regulasi.
Meski demikian, keberadaan teknologi canggih di kendaraan tidak otomatis berarti mobil tersebut dapat digunakan tanpa pengemudi di seluruh jalan Indonesia. Regulasi, infrastruktur, kondisi jalan, sistem komunikasi, peta digital serta kesiapan keselamatan tetap menjadi faktor penting.
Jadi, Apakah Mobil Self-Driving Sudah Benar-Benar Bisa Jalan Sendiri?
Jawabannya: tergantung level teknologinya.
Sebagian besar mobil yang saat ini disebut memiliki teknologi self-driving masih berada pada kategori driver assistance, terutama Level 1 dan Level 2.
Sementara teknologi Level 3 sudah memungkinkan kendaraan mengambil alih tugas mengemudi dalam kondisi tertentu, tetapi masih memiliki batasan wilayah dan kondisi operasi.
Untuk Level 4 dan Level 5, teknologi menuju kendaraan yang benar-benar mampu bergerak tanpa manusia sebagai pengemudi masih menjadi bagian dari perkembangan industri kendaraan otonom.
Karena itu, ketika membeli mobil dengan teknologi “self-driving”, konsumen sebaiknya tidak hanya melihat nama fitur. Perhatikan level otomatisasi, kondisi penggunaan, wilayah yang diizinkan, kewajiban pengemudi dan aturan keselamatan.
Teknologi mobil otonom memang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Namun, perjalanan menuju era kendaraan yang benar-benar tanpa pengemudi masih membutuhkan perkembangan teknologi, regulasi dan infrastruktur secara bersamaan.
Dengan kata lain, masa depan mobil tanpa pengemudi sudah dimulai—tetapi belum semua mobil yang terlihat “bisa menyetir sendiri” benar-benar bisa ditinggal begitu saja.
Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan pembaruan dari artikel yang sebelumnya diterbitkan pada 17 Oktober 2022. Isi artikel telah diperbarui dan disesuaikan dengan perkembangan teknologi, informasi, serta regulasi kendaraan otonom hingga 2026.
Baca juga: Daftar Mobil Listrik di Bawah Rp200 Juta 2026, Ada yang Mulai Rp150 Jutaan