Daerah

Yos Yoyo Ungkap Sejarah Paguyuban Sunda di Bontang, Berawal dari Silaturahmi Warga Perantauan Sejak 1983

×

Yos Yoyo Ungkap Sejarah Paguyuban Sunda di Bontang, Berawal dari Silaturahmi Warga Perantauan Sejak 1983

Sebarkan artikel ini
Penasehat PWSB Yos Yoyo Susanto, saat menghadiri acara Milad PWSB ke-5 / ist
Penasehat PWSB Yos Yoyo Susanto, saat menghadiri acara Milad PWSB ke-5 / ist

Yos Yoyo Ungkap Sejarah Paguyuban Sunda di Bontang, Berawal dari Silaturahmi Warga Perantauan Sejak 1983

Dari perkumpulan sederhana hingga menjadi wadah silaturahmi warga Sunda, perjalanan Paguyuban Wargi Sunda Bontang (PWSB) tidak lepas dari peran para perintis, salah satunya Yos Yoyo Susanto.

BONTANG, PARAGRAFNEWS.CO – Keberadaan warga Sunda di Kota Bontang, Kalimantan Timur, memiliki cerita panjang. Jauh sebelum Paguyuban Wargi Sunda Bontang atau PWSB dikenal seperti sekarang, warga asal Jawa Barat di kota ini telah membangun hubungan kekeluargaan melalui pertemuan sederhana, silaturahmi dan arisan.

Salah satu tokoh yang mengetahui perjalanan tersebut adalah Yos Yoyo Susanto, sesepuh sekaligus salah satu pendiri paguyuban warga Sunda di Bontang.

Yos Yoyo, pria kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, tahun 1951, menjadi salah satu tokoh yang ikut menggagas terbentuknya wadah bagi masyarakat Sunda di Bontang.

Dalam keterangannya yang dihimpun Paragrafnews.co, gagasan tersebut bermula pada 1983, ketika warga Sunda di Bontang belum memiliki wadah organisasi yang secara khusus menghimpun mereka.

Pada masa itu, perkumpulan tersebut menggunakan nama Ikatan Keluarga Besar Jawa Barat (IKJB).

Berawal dari Silaturahmi dan Arisan

Menurut Yos Yoyo, tujuan awal pembentukan perkumpulan tersebut sederhana, yakni mengumpulkan dan mempererat hubungan warga asal Jawa Barat yang tinggal di Bontang.

Ketika itu, keberadaan warga Sunda belum terdata secara baik. Karena itu, pertemuan menjadi salah satu cara untuk saling mengenal sekaligus membangun jaringan kekeluargaan di tanah perantauan.

“Kegiatan saat itu hanya dilakukan dengan cara silaturahmi dan arisan. Saat itu kita undang saudara-saudara orang Sunda dari PIR, daerah transmigrasi asal Jawa Barat,” kata Yos Yoyo dalam wawancara yang dimuat Paragrafnews.co pada 2022.

Dari kegiatan sederhana tersebut, hubungan antarwarga Sunda perlahan berkembang.

Bagi masyarakat perantauan, keberadaan paguyuban bukan sekadar organisasi. Ia menjadi ruang untuk bertemu, saling membantu dan menjaga hubungan dengan sesama warga yang memiliki latar belakang budaya yang sama.

Perjalanan tersebut kemudian berkembang seiring bertambahnya warga Sunda di Bontang.

Perjalanan Panjang Sebelum Menjadi PWSB

Sejarah organisasi warga Sunda di Bontang mengalami sejumlah perubahan nama dan kelembagaan.

Dalam wawancara dengan Paragrafnews.co, Yos Yoyo menyebut perkumpulan tersebut telah dimulai sejak 1983. Kemudian pada 1996, organisasi tersebut disebut resmi dikukuhkan ketika Bontang masih berstatus KOTIB atau kota administratif di bawah pemerintahan Kabupaten Kutai.

Perjalanan berikutnya berlanjut hingga pada 10 Desember 2003, ketika organisasi tersebut disahkan melalui akta notaris dengan nama Ikatan Keluarga Besar Pasundan (IKBP).

Kemudian pada 16 Maret 2017, IKBP berganti nama menjadi Paguyuban Wargi Sunda Bontang (PWSB).

Perubahan nama tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang organisasi dalam menyesuaikan diri dengan perkembangan masyarakat Sunda di Bontang.

Dengan nama PWSB, organisasi tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu wadah silaturahmi warga Sunda di Kota Bontang.

Yos Yoyo dan Rumah yang Menjadi Tempat Berkumpul

Peran Yos Yoyo dalam perjalanan paguyuban tidak berhenti pada masa awal pembentukan.

Pada 2026, PWSB masih menyebut Yos Yoyo Susanto sebagai salah satu pendiri sekaligus pembina. Rumahnya juga menjadi tempat yang digunakan warga Sunda untuk berkumpul dan melaksanakan berbagai kegiatan.

Dalam pemberitaan mengenai kegiatan PWSB pada September 2026, Yos Yoyo kembali mengungkap bahwa dirinya telah terlibat dalam perjalanan paguyuban sejak awal.

“Alhamdulillah saya menyatukan orang se-Bontang, sebagai pendiri untuk silaturahmi yang jauh dari kampung halaman. Rumah saya menjadi padepokan paguyuban,” ujar Yos Yoyo.

Keterangan tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan PWSB bukan hanya tentang perubahan nama organisasi, tetapi juga mengenai hubungan sosial yang dibangun selama puluhan tahun.

PWSB Kini, Warga Sunda Bontang yang Terus Bertumbuh

Perkembangan PWSB terlihat dari semakin banyaknya warga yang terlibat dalam berbagai kegiatan.

Dalam kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar PWSB pada 12 September 2026, Ketua PWSB Yayat Ruhiyat menyebut jumlah warga Sunda di Bontang telah mencapai ribuan orang.

Namun, anggota yang tercatat secara resmi bergabung dalam PWSB sekitar 350 orang.

Angka tersebut menunjukkan bahwa komunitas warga Sunda di Bontang tidak lagi berada dalam skala kecil seperti ketika perkumpulan tersebut pertama kali digagas pada 1983.

PWSB kini tidak hanya menjadi tempat bertemu warga Sunda, tetapi juga menjadi ruang untuk melaksanakan kegiatan sosial, keagamaan dan kebudayaan.

Salah satu contohnya terlihat dalam kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah pada September 2026.

Kegiatan tersebut digelar secara swadaya dengan melibatkan pengurus, warga PWSB, tamu undangan dan masyarakat sekitar. Semangat sabilulungan atau gotong royong menjadi salah satu bagian penting dalam pelaksanaannya.

Bukan Sekadar Menjaga Identitas Sunda

Keberadaan paguyuban di tengah masyarakat perantauan memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar mempertahankan identitas budaya.

Bagi warga Sunda yang tinggal jauh dari Jawa Barat, paguyuban menjadi salah satu ruang untuk mempertahankan hubungan kekeluargaan.

Kegiatan silaturahmi, arisan, kegiatan keagamaan hingga seni budaya menjadi cara untuk mempertemukan warga dari berbagai latar belakang.

Semangat tersebut juga terlihat dalam berbagai kegiatan PWSB yang melibatkan masyarakat sekitar.

Pada kegiatan Maulid Nabi September 2026, misalnya, PWSB tidak hanya mengundang pengurus dan warga Sunda. Masyarakat sekitar hingga perangkat lingkungan seperti ketua RT juga turut dilibatkan.

Artinya, aktivitas paguyuban tidak berdiri sendiri di tengah masyarakat Bontang.

Dari 1983 hingga Generasi Sekarang

Jika ditarik ke belakang, perjalanan warga Sunda di Bontang menunjukkan bagaimana sebuah komunitas dapat tumbuh dari hubungan sosial yang sederhana.

Pada 1983, gagasan yang dibangun adalah mengumpulkan warga asal Jawa Barat yang tinggal di Bontang.

Kemudian muncul berbagai bentuk organisasi dan perubahan nama hingga akhirnya menggunakan nama Paguyuban Wargi Sunda Bontang.

Lebih dari empat dekade kemudian, PWSB masih menjalankan fungsi sebagai wadah silaturahmi.

Bagi Yos Yoyo, keberlanjutan tersebut menjadi bagian yang membahagiakan dari gagasan yang pernah dirintisnya.

“Saya secara pribadi merasa bahagia dan senang karena sampai hari ini, orang Sunda yang ada di Kota Bontang rukun dan guyub. Harapan saya semoga selamanya seperti ini,” kata Yos Yoyo.

Harapan tersebut pada akhirnya bukan hanya berbicara tentang warga Sunda.

Ia juga menggambarkan bagaimana komunitas perantauan dapat membangun kehidupan sosial dengan tetap menjaga akar budaya sekaligus berbaur dengan masyarakat di tempat mereka tinggal.

Menjaga Silaturahmi di Kota Perantauan

Perjalanan PWSB sejak 1983 hingga sekarang memperlihatkan satu hal penting: sebuah paguyuban dapat bertahan bukan hanya karena struktur organisasi, tetapi karena hubungan antarwarganya terus dirawat.

Dari silaturahmi dan arisan sederhana, organisasi warga Sunda di Bontang berkembang melalui sejumlah fase hingga menjadi PWSB.

Yos Yoyo menjadi salah satu nama yang tercatat dalam perjalanan tersebut.

Kini, ketika generasi warga Sunda di Bontang terus berkembang, tantangan berikutnya adalah menjaga agar semangat kebersamaan yang dibangun sejak awal tetap hidup.

Bukan hanya melalui kegiatan organisasi, tetapi juga lewat kepedulian sosial, budaya, keagamaan dan hubungan baik dengan masyarakat Bontang secara luas.

Sebab, bagi komunitas perantauan, kampung halaman bukan hanya tempat yang ditinggalkan.

Ia juga dapat tetap hidup melalui bahasa, budaya, silaturahmi dan hubungan kekeluargaan yang terus dijaga di tempat baru.

Sumber

  • Arsip wawancara Paragrafnews.co dengan Yos Yoyo Susanto, 12 Juni 2022.

Catatan redaksi: Artikel ini merupakan penyegaran dari artikel Paragrafnews.co yang pertama kali diterbitkan pada 12 Juni 2022, dengan penambahan informasi perkembangan PWSB hingga September 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *