PATI, JAWA TENGAH — Dugaan keracunan setelah menyantap makanan Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Ratusan siswa dari dua sekolah di Kecamatan Gembong mengalami keluhan kesehatan setelah menerima menu MBG pada Selasa (8/9/2026).
Perkembangan terbaru pada Rabu (9/9/2026), 136 pasien tercatat masuk ke RSUD RAA Soewondo Pati, sementara jumlah keseluruhan warga sekolah yang mengalami gejala masih terus didata dan dinyatakan dinamis.
Dinas Kesehatan Kabupaten Pati belum menyimpulkan bahwa makanan MBG menjadi penyebab pasti. Petugas masih melakukan penyelidikan epidemiologis dan pemeriksaan sampel makanan di laboratorium.
Kronologi Dugaan Keracunan
Selasa, 8 September 2026: Menu MBG Dibagikan
Peristiwa bermula pada Selasa (8/9/2026), ketika makanan program MBG dibagikan kepada siswa di MTs Negeri 3 Pati dan SMP Negeri 1 Gembong.
Makanan tersebut diketahui berasal dari SPPG Gembong 1.
Di MTs Negeri 3 Pati, Kepala Madrasah Zaenal Arifin menyebut makanan biasanya dikonsumsi sekitar pukul 11.20 WIB. Namun, pada hari itu menu MBG baru tiba sekitar pukul 12.00 WIB lebih.
Keterlambatan kedatangan makanan tersebut menjadi salah satu bagian yang kini menjadi perhatian dalam penelusuran kejadian. Namun, belum ada kesimpulan bahwa keterlambatan tersebut berkaitan langsung dengan munculnya gangguan kesehatan.
Selasa Malam: Keluhan Mulai Muncul
Beberapa jam setelah menyantap makanan, sejumlah siswa mulai mengalami keluhan.
Di MTs Negeri 3 Pati, keluhan dilaporkan mulai muncul sekitar pukul 23.00 WIB. Sejumlah siswa mengalami sakit perut dan diare.
Keluhan kemudian bertambah hingga Rabu pagi.
Dari sekitar 565 siswa MTs Negeri 3 Pati, sementara tercatat 127 siswa mengalami keluhan kesehatan.
Rabu Pagi: Keluhan Meluas di SMPN 1 Gembong
Situasi serupa terjadi di SMP Negeri 1 Gembong.
Pihak sekolah mengetahui adanya banyak siswa yang mengalami gangguan kesehatan pada Rabu pagi. Awalnya, siswa mengeluhkan sakit perut dan berulang kali pergi ke kamar mandi.
Jumlah siswa yang mengalami keluhan kemudian semakin bertambah.
Dari sekitar 443 siswa SMPN 1 Gembong, sebanyak 103 siswa dilaporkan mengalami keluhan. Selain siswa, 13 guru yang turut mengonsumsi MBG juga dilaporkan mengalami gangguan kesehatan.
Puskesmas Gembong Kelebihan Kapasitas
Banyaknya siswa yang membutuhkan penanganan membuat Puskesmas Gembong mengalami kelebihan kapasitas.
Para siswa kemudian dievakuasi dan mendapatkan penanganan di sejumlah fasilitas kesehatan, termasuk RSUD RAA Soewondo Pati, RS Mitra Bangsa, dan KSH Pati.
Dinkes Pati juga mengerahkan ambulans untuk mempercepat proses evakuasi. Sebanyak 29 ambulans disebut dikerahkan menuju Gembong.
136 Pasien Masuk RSUD Soewondo
Perkembangan terbaru menunjukkan 136 pasien tercatat masuk ke RSUD RAA Soewondo Pati.
Direktur RSUD RAA Soewondo, Ahmad Husen, mengatakan jumlah tersebut masih bersifat fluktuatif karena pendataan masih berlangsung.
Pasien dengan kondisi lebih berat, seperti mengalami muntah dan diare lebih dari 10 kali, mendapatkan penanganan berupa infus. Sementara pasien dengan gejala lebih ringan menjalani evaluasi dan observasi.
Kapasitas ruang rawat inap rumah sakit juga sempat penuh sehingga sebagian pasien ditempatkan sementara di aula sambil menunggu tambahan tempat tidur.
Meski jumlah pasien cukup banyak, Kepala Dinkes Pati Luky Pratugas Narimo menyampaikan bahwa tidak ada siswa yang dilaporkan mengalami gejala berat atau sampai pingsan. Keluhan yang paling banyak ditemukan berupa mual, diare, pusing, dan lemas.
Data Korban Masih Bisa Bertambah
Dinkes Pati belum menetapkan angka final jumlah korban.
Laporan SuaraJawaTengah.id sebelumnya menyebut 273 siswa dan 43 guru dari dua sekolah mengalami keluhan. Rinciannya, 103 siswa dan 13 guru di SMP Negeri 1 Gembong serta 127 siswa dan 30 guru di MTs Negeri 3 Pati.
Namun, laporan lanjutan dari Lingkar.co menyebut Dinkes masih melakukan sinkronisasi data dari sejumlah fasilitas kesehatan sehingga angka tersebut masih dapat berubah. Karena itu, angka korban sebaiknya disebut sebagai data sementara sampai pemerintah daerah merilis angka final.
Dinkes Ambil Sampel Makanan
Untuk mencari penyebab kejadian, Dinkes Pati melakukan penyelidikan epidemiologis (PE).
Petugas juga mengambil sampel makanan dari bank sampel SPPG Gembong 1 untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium.
Langkah tersebut penting untuk mengetahui apakah terdapat kontaminasi atau faktor lain yang dapat menjelaskan munculnya keluhan pada para siswa dan guru.
Dinkes memperkirakan hasil penyelidikan epidemiologis dan pemeriksaan laboratorium dapat diketahui dalam waktu sekitar satu hingga dua pekan.
Dengan demikian, sampai hasil pemeriksaan keluar, belum dapat disimpulkan bahwa menu MBG merupakan penyebab pasti gangguan kesehatan tersebut.
Polisi Turun Tangan
Kasus ini juga mulai diselidiki oleh kepolisian.
Kasatreskrim Polresta Pati Kompol Dika Hadian Widya Wiratama mengatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan terkait dugaan keracunan tersebut.
Polisi juga belum memastikan jumlah korban karena pendataan masih berjalan. Saat ini aparat masih mengumpulkan informasi sebelum menentukan perkembangan lebih lanjut, termasuk apakah perkara tersebut berpotensi masuk ke ranah pidana.
Orang Tua Tidak Dibebani Biaya Pengobatan
Di tengah penanganan para siswa, Dinkes Pati memastikan orang tua korban tidak akan dibebani biaya pengobatan.
Biaya penanganan disebut akan ditanggung oleh Badan Gizi Nasional (BGN) atau SPPG.
Sementara mengenai evaluasi terhadap SPPG yang mendistribusikan makanan, Dinkes menyebut hal tersebut menjadi kewenangan BGN. Fokus pemerintah daerah saat ini adalah memastikan seluruh siswa dan warga sekolah yang mengalami keluhan mendapatkan penanganan medis.
Apa Penyebabnya? Masih Menunggu Hasil Laboratorium
Hingga pembaruan terakhir pada Rabu, 9 September 2026, penyebab pasti kejadian tersebut masih belum diketahui.
Dugaan awal memang berkaitan dengan makanan MBG yang disantap sehari sebelumnya. Namun, hubungan tersebut belum dapat dinyatakan sebagai fakta medis sebelum hasil pemeriksaan laboratorium dan penyelidikan epidemiologis selesai.
baca juga: Ratusan Siswa dan Guru di Pati Diduga Keracunan Usai Santap MBG, 316 Orang Alami Mual dan Diare











