Ekonomi

Rupiah Tertekan ke Rp17.933 per Dolar AS, Ini Faktor yang Jadi Sorotan Pasar

×

Rupiah Tertekan ke Rp17.933 per Dolar AS, Ini Faktor yang Jadi Sorotan Pasar

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, Paragrafnews.co – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Jumat, 25 September 2026. Rupiah dibuka melemah 17 poin atau 0,09 persen ke level Rp17.933 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya sebesar Rp17.916 per dolar AS.

Tekanan terhadap mata uang Garuda terjadi ketika dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) menguat. Perkembangan tersebut membuat pasar kembali memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter AS yang lebih ketat.

Rupiah Menuju Penurunan Mingguan Terbesar Sejak Mei

Reuters melaporkan rupiah pada Jumat berada di jalur menuju penurunan mingguan terbesar sejak akhir Mei. Dalam perdagangan hari itu, rupiah sempat melemah hingga sekitar 0,3 persen ke Rp17.935 per dolar AS.

baca juga: Harga Pangan 25 September 2026: Cabai Tembus Rp105 Ribu, Beras Ikut Naik

Secara mingguan, rupiah telah melemah hampir 1 persen. Reuters mengaitkan tekanan tersebut dengan kenaikan imbal hasil US Treasury, penguatan dolar AS, serta ekspektasi bahwa suku bunga Amerika Serikat dapat bertahan lebih tinggi dalam waktu lebih lama.

Kondisi tersebut penting bagi pasar negara berkembang karena aset berdenominasi dolar AS menjadi relatif lebih menarik ketika imbal hasil aset Amerika meningkat.

Ekspektasi Kebijakan The Fed Jadi Perhatian

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengatakan pergerakan rupiah turut dipengaruhi meningkatnya ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve atau The Fed.

Kepada ANTARA, Josua menyebut data Flash Purchasing Managers’ Index (PMI) Amerika Serikat untuk September menunjukkan aktivitas bisnis yang lebih kuat dari perkiraan.

Composite PMI AS tercatat 58,4, meningkat dari 56,0 pada Agustus dan menjadi level tertinggi sejak Juli 2021. Perkembangan tersebut kemudian meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan pengetatan kebijakan moneter AS lebih lanjut.

Menurut data yang dikutip ANTARA, pasar memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober 2026.

Harga Minyak Ikut Menambah Tekanan

Faktor lain yang diperhatikan pasar adalah pergerakan harga minyak dunia.

Josua Pardede menilai kenaikan harga minyak lebih dari 1 persen turut meningkatkan tekanan terhadap rupiah karena memunculkan kembali kekhawatiran mengenai inflasi global dan risiko geopolitik.

Ketegangan geopolitik juga menjadi perhatian investor karena perubahan harga energi dapat memengaruhi prospek inflasi dan kebijakan bank sentral.

Reuters juga mencatat kenaikan harga minyak dalam perdagangan global ikut mendorong imbal hasil US Treasury tenor 30 tahun ke level tertinggi sejak 2004.

Bagaimana Posisi Bank Indonesia?

Di dalam negeri, Bank Indonesia pada Rabu mempertahankan suku bunga acuannya di 5,75 persen.

Menurut laporan Reuters, keputusan tersebut diambil setelah BI sebelumnya menaikkan suku bunga secara kumulatif 100 basis poin pada Mei dan Juni untuk mendukung stabilitas rupiah.

Reuters mencatat BI mengisyaratkan bahwa stabilisasi rupiah selanjutnya lebih banyak ditempuh melalui instrumen berbasis pasar ketika tekanan berasal dari harga minyak dan kenaikan imbal hasil obligasi AS.

Perbedaan arah kebijakan atau ekspektasi suku bunga antara Indonesia dan Amerika Serikat menjadi salah satu faktor yang terus diperhatikan pelaku pasar valuta asing.

Rupiah Diproyeksikan Bergerak di Kisaran Ini

Untuk perdagangan Jumat, sejumlah analis memperkirakan rupiah masih akan bergerak dalam rentang tertentu.

Doo Financial Futures memperkirakan rupiah berada di kisaran Rp17.850–Rp18.000 per dolar AS. Sementara Chief Economist Permata Bank Josua Pardede memperkirakan rentang Rp17.875–Rp17.975 per dolar AS.

Kisaran tersebut merupakan proyeksi analis untuk perdagangan, bukan kepastian mengenai arah rupiah selanjutnya.

Apa Dampaknya bagi Masyarakat?

Pergerakan rupiah terhadap dolar AS tidak hanya menjadi perhatian pelaku pasar keuangan. Nilai tukar juga dapat memengaruhi biaya barang dan bahan baku yang memiliki komponen impor.

Dampaknya dapat berbeda-beda tergantung jenis barang, besarnya kandungan impor, kontrak perdagangan, serta strategi perusahaan dalam mengelola risiko nilai tukar.

Karena itu, pelemahan rupiah tidak secara otomatis berarti seluruh harga barang di dalam negeri akan langsung naik pada saat yang sama. Dampaknya perlu dilihat berdasarkan masing-masing sektor dan komoditas.

Rupiah dan Arah Pasar Selanjutnya

Pergerakan rupiah pada perdagangan Jumat, 25 September 2026 menjadi bagian dari dinamika pasar global yang dipengaruhi oleh dolar AS, imbal hasil US Treasury, ekspektasi kebijakan The Fed, harga minyak, dan risiko geopolitik.

Di dalam negeri, kebijakan Bank Indonesia dan perkembangan arus modal juga menjadi faktor yang akan diperhatikan pasar.

Untuk saat ini, data perdagangan menunjukkan rupiah berada di sekitar Rp17.933 per dolar AS pada pembukaan Jumat, sementara pasar terus mencermati perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat dan kondisi ekonomi global.

Sumber: Reuters, ANTARA, Bisnis.com, Bank Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *