Daerah

Bank Sampah Ceria Satimpo Manfaatkan Mesin Pirolisis, Sampah Plastik Diolah Jadi Bahan Bakar

×

Bank Sampah Ceria Satimpo Manfaatkan Mesin Pirolisis, Sampah Plastik Diolah Jadi Bahan Bakar

Sebarkan artikel ini
Bank Sampah Kelurahan Satimpo
Pelatihan pengoperasian mesin Pirolisis dihadiri oleh Bank Sampah Satimpo, CSR Badak NGL, perwakilan Kelurahan dan Pengurus dengan narasumber dari Semarang Agus Sutopo / ist

BONTANG, PARAGRAFNEWS.CO — Pengelolaan sampah plastik menjadi perhatian Bank Sampah Ceria di Kelurahan Satimpo, Kecamatan Bontang Selatan, Kota Bontang, Kalimantan Timur.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah memperkenalkan teknologi pirolisis, yakni proses pengolahan material melalui pemanasan dengan kondisi oksigen sangat terbatas. Teknologi tersebut diperkenalkan kepada pengelola Bank Sampah Ceria melalui pelatihan mesin pirolisis pada September 2022.

Pelatihan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengolah sampah anorganik sekaligus melihat potensi ekonomi dari limbah yang sebelumnya dianggap tidak memiliki nilai.

Lurah Satimpo: Bank Sampah Beri Nilai Ekonomi bagi Warga

Lurah Satimpo saat itu, Maryono, mengatakan keberadaan Bank Sampah Ceria menjadi salah satu bentuk pengelolaan sampah rumah tangga yang melibatkan masyarakat.

“Yang digunakan untuk pengolahan sampah daur ulang, jadi warga yang menjadi nasabah bank sampah tersebut juga dapat mendapatkan uang,” kata Maryono, sebagaimana dikutip dalam pemberitaan mengenai aktivitas Bank Sampah Ceria di Kelurahan Satimpo.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di tingkat kelurahan tidak hanya diarahkan untuk menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi kepada warga.

Bank Sampah Ceria sendiri pada awalnya dikelola oleh anggota PKK Kelurahan Satimpo sejak 2017. Kemudian pada 2018, program tersebut mendapat pendampingan serta bantuan sarana melalui program CSR Badak LNG.

Mesin Pirolisis Diperkenalkan untuk Mengolah Limbah

Dalam kegiatan pelatihan yang menjadi dasar artikel ini, pengelola Bank Sampah Ceria mendapatkan pengetahuan mengenai pengoperasian mesin pirolisis.

Teknologi tersebut menjadi salah satu pendekatan untuk memanfaatkan jenis sampah tertentu yang sulit ditangani melalui metode pemilahan dan penjualan sampah anorganik biasa.

Melalui proses pemanasan, material berbasis plastik dapat menghasilkan produk cair. Namun, produk hasil pirolisis tidak serta-merta dapat disamakan dengan bensin atau solar yang memenuhi spesifikasi bahan bakar kendaraan.

Produk yang dihasilkan perlu melalui proses dan pengujian lebih lanjut untuk mengetahui karakteristik serta kelayakannya sesuai peruntukan.

Karena itu, istilah “diolah menjadi bahan bakar” dalam konteks pelatihan ini perlu dipahami sebagai hasil proses pirolisis yang masih membutuhkan tahapan lanjutan, bukan klaim bahwa seluruh sampah plastik dapat langsung berubah menjadi BBM siap digunakan.

Direktur Bank Sampah Ceria Ungkap Perkembangan Nasabah

Perkembangan Bank Sampah Ceria juga pernah disampaikan Juarni Huda, Direktur Bank Sampah Ceria.

Dalam laporan ANTARA pada Desember 2022, Juarni menjelaskan bahwa Bank Sampah Ceria bermula dari kegiatan anggota PKK Kelurahan Satimpo dan kemudian berkembang setelah memperoleh pendampingan serta sarana dari program CSR Badak LNG.

Jumlah nasabah yang sebelumnya sekitar 65 orang meningkat menjadi 153 nasabah pada 2022. Bank Sampah Ceria menerima sampah anorganik seperti plastik dan kertas dari warga.

“Penghasilan per bulan rata-rata bisa mencapai Rp2 juta yang dipakai untuk operasional dan pembayaran iuran BPJS anggota,” kata Juarni dalam laporan tersebut.

Data tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas bank sampah tidak semata-mata berkaitan dengan pengurangan sampah, tetapi juga memiliki aspek ekonomi bagi kelompok pengelolanya.

Badak LNG Dorong Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat

Program Bank Sampah Ceria juga menjadi bagian dari program Salin Swara (Sampah Keliling Swadaya Masyarakat) yang dikembangkan Badak LNG.

Manajer CSR & Relation PT Badak NGL, Mohammad Irfan Hidayat, menjelaskan bahwa program tersebut mengajak masyarakat memilah sampah dari rumah sebelum dikumpulkan secara kolektif ke bank sampah.

“Intinya program Salin Swara itu adalah bank sampah, jadi memanfaatkan sampah baik dari industri maupun perumahan,” kata Irfan Hidayat.

Menurut Irfan, program tersebut juga memberikan manfaat kepada masyarakat melalui mekanisme investasi saldo tabungan, tabungan emas dan premi BPJS Ketenagakerjaan.

Bank Sampah Ceria menjadi salah satu kelompok masyarakat yang mayoritas anggotanya merupakan ibu-ibu dan bergerak dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Bank Sampah Ceria dan Tantangan Keberlanjutan

Keberadaan mesin pirolisis menjadi bagian dari perjalanan inovasi pengelolaan sampah di Bank Sampah Ceria. Namun, teknologi tersebut bukan satu-satunya kegiatan pengelolaan sampah yang dilakukan.

Dokumen Pemerintah Kota Bontang mencatat pengembangan pengelolaan sampah terpadu dan pemanfaatan hasil daur ulang sebagai bagian dari program di Kelurahan Satimpo. Program tersebut juga melibatkan kader PKK serta kerja sama dengan pihak terkait.

Penelitian Universitas Mulawarman yang diterbitkan pada 2024 juga secara khusus mengkaji Bank Sampah Ceria Satimpo dari sisi penyusunan laporan keuangan. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa aktivitas bank sampah berkembang sebagai organisasi yang membutuhkan tata kelola administrasi dan pencatatan keuangan.

Sementara penelitian lain mengenai perkembangan program Salin Swara mencatat bahwa mesin pirolisis yang sebelumnya terdapat di Bank Sampah Ceria pada perkembangan berikutnya telah dipindahkan ke Dinas Lingkungan Hidup. Informasi ini penting untuk membedakan riwayat penggunaan mesin pirolisis pada periode pelatihan dengan kondisi fasilitas Bank Sampah Ceria pada periode setelahnya.

Pirolisis Jadi Bagian dari Upaya Mengurangi Sampah Plastik

Pelatihan mesin pirolisis di Bank Sampah Ceria Satimpo menjadi bagian dari upaya masyarakat memanfaatkan teknologi untuk menangani sampah yang memiliki nilai guna maupun nilai ekonomi.

Di sisi lain, pengolahan sampah menggunakan teknologi membutuhkan pemilahan bahan baku, pengoperasian alat secara tepat, pengelolaan residu serta pengujian produk yang dihasilkan.

Dengan pendekatan tersebut, pengelolaan sampah tidak hanya berhenti pada kegiatan mengumpulkan dan menjual sampah anorganik, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan teknologi untuk mengurangi material yang berpotensi menjadi limbah.

Bagi Kota Bontang, pengalaman Bank Sampah Ceria Satimpo menunjukkan bagaimana pengelolaan sampah berbasis masyarakat dapat berkembang melalui kombinasi partisipasi warga, dukungan kelembagaan, program CSR dan pemanfaatan teknologi.

Sumber dan Narasumber

  • Maryono, Lurah Satimpo saat periode kegiatan, terkait pengelolaan Bank Sampah Ceria dan manfaat ekonomi bagi warga.
  • Juarni Huda, Direktur Bank Sampah Ceria, terkait sejarah, perkembangan nasabah dan aktivitas ekonomi bank sampah.
  • Mohammad Irfan Hidayat, Manajer CSR & Relation PT Badak NGL, terkait program Salin Swara dan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
  • Dokumen Pemerintah Kota Bontang mengenai inovasi pengelolaan sampah di Kelurahan Satimpo.
  • Penelitian Universitas Mulawarman mengenai Bank Sampah Ceria Satimpo.

Catatan redaksi: Artikel ini merupakan perombakan artikel lama Paragrafnews.co dengan mempertahankan fakta historis kegiatan pelatihan dan menambahkan konteks serta sumber yang dapat diverifikasi. Kondisi penggunaan mesin pirolisis pada masa kini tidak disamakan dengan kondisi saat pelatihan 2022. (kaje/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *