InternasionalNews

Ledakan Dahsyat Israel di Lebanon Picu Getaran Magnitudo 4,1, Klaim 1.100 Ton Bahan Peledak Beredar di X

×

Ledakan Dahsyat Israel di Lebanon Picu Getaran Magnitudo 4,1, Klaim 1.100 Ton Bahan Peledak Beredar di X

Sebarkan artikel ini
Israel bom lebanon
Foto ilustrasi / pexels

LEBANON SELATAN — Ledakan besar mengguncang kawasan Ali al-Taher, Nabatieh, Lebanon Selatan, setelah militer Israel menghancurkan jaringan terowongan bawah tanah yang diklaim sebagai infrastruktur strategis Hezbollah. Getaran akibat ledakan tersebut tercatat mencapai magnitudo 4,1, membuat tanah dan bangunan di sekitar lokasi ikut bergetar.

Operasi penghancuran itu berlangsung pada Kamis, 10 September 2026. Israel menyatakan telah menghancurkan jaringan infrastruktur bawah tanah Hezbollah yang membentang lebih dari 2 kilometer di bawah kawasan strategis Ali al-Taher.

baca juga: Massa Haredi di Yerusalem Teriaki Tentara Israel “Kafir” dan “Nazi”, Protes Wajib Militer Memanas

Laporan Reuters menyebut jaringan tersebut berisi berbagai persenjataan, termasuk roket, rudal, drone, rudal antiranjau serta ratusan ranjau dan bahan peledak. Israel mengatakan operasi tersebut sekaligus memperkuat kendali operasionalnya atas kawasan Ali al-Taher, baik di permukaan maupun bawah tanah.

Yang membuat peristiwa ini semakin mencuri perhatian adalah catatan seismik yang muncul setelah ledakan.

Data seismologi menunjukkan adanya peristiwa berkekuatan magnitudo 4,1 di sekitar Srîfa, Lebanon Selatan, pada pukul 18.08 UTC atau sekitar 21.08 waktu setempat, dengan kedalaman tercatat 10 kilometer. Data tersebut mencatat lokasi sekitar 13 kilometer barat daya Nabatîyé.

Namun, penyebutan angka tersebut sebagai “gempa akibat ledakan” perlu dibaca secara hati-hati.

Laporan mengenai kejadian di Ali al-Taher menyebut sinyal seismik tersebut muncul berdekatan dengan penghancuran jaringan terowongan. Dengan kata lain, angka magnitudo 4,1 memang tercatat, tetapi istilah “gempa” tidak otomatis berarti terjadi gempa tektonik alami. Ledakan bawah tanah juga dapat menghasilkan gelombang seismik yang tertangkap jaringan pemantauan gempa.

Klaim 1.100 Ton Bahan Peledak Viral di X

Di media sosial X, sejumlah akun kemudian menyebarkan klaim bahwa Israel menggunakan sekitar 1.100 ton bahan peledak dalam operasi tersebut.

Klaim itu antara lain beredar melalui sejumlah akun yang menyebut penghancuran jaringan terowongan Ali al-Taher menggunakan sekitar 1.100 ton bahan peledak. Namun, hingga laporan ini ditulis, angka tersebut belum ditemukan konfirmasi independen yang cukup kuat dari sumber resmi militer Israel maupun lembaga seismologi.

Karena itu, angka 1.100 ton sebaiknya diposisikan sebagai klaim yang masih memerlukan verifikasi, bukan fakta final.

Sebagai pembanding, angka 1.100 ton TNT juga pernah digunakan dalam kajian mengenai ledakan Pelabuhan Beirut 2020 sebagai estimasi ekuivalen energi dari sekitar 2.750 ton amonium nitrat. Artinya, angka tersebut memiliki konteks ilmiah tersendiri dan tidak boleh begitu saja diasumsikan sebagai jumlah bahan peledak yang digunakan Israel dalam operasi Ali al-Taher.

Video Ledakan Beredar di X

Video ledakan Ali al-Taher juga beredar luas di media sosial.

AFP mengonfirmasi adanya rekaman yang dibagikan Menteri Pertahanan Israel Israel Katz melalui X pada 10 September 2026, yang memperlihatkan momen ledakan ketika Israel menyatakan menghancurkan infrastruktur bawah tanah Hezbollah di kawasan tersebut.

Rekaman lain dari kawasan Ali al-Taher juga memperlihatkan dampak ledakan dan getaran yang dirasakan di sekitar lokasi.

Catatan penting: video yang beredar di media sosial sebaiknya tidak digunakan sebagai bukti tunggal untuk menentukan jumlah bahan peledak atau memastikan hubungan kausal antara ledakan dan magnitudo 4,1. Identitas lokasi, waktu pengambilan gambar, serta konteks video harus diperiksa secara terpisah.

Ledakan Bukan Sekadar Serangan Biasa

Penghancuran jaringan bawah tanah Ali al-Taher menjadi bagian dari operasi militer Israel yang telah berlangsung selama beberapa pekan di kawasan tersebut.

Reuters melaporkan bahwa Israel sebelumnya menyatakan telah membersihkan jaringan terowongan di bawah punggung bukit strategis itu dari pasukan Hezbollah. Kawasan tersebut berada sekitar 15 kilometer dari perbatasan Israel dan dipandang penting secara militer.

Pada 10 September, Israel kemudian mengumumkan penghancuran infrastruktur bawah tanah tersebut. AFP melaporkan wartawannya di Lebanon Selatan juga mendengar ledakan besar pada Kamis malam.

Peristiwa tersebut kembali memperlihatkan betapa dahsyatnya perang bawah tanah di Lebanon Selatan—ketika penghancuran sebuah jaringan terowongan militer bukan hanya menghasilkan kepulan asap dan ledakan besar, tetapi juga memunculkan sinyal seismik yang tercatat oleh jaringan pemantauan gempa.

Paragrafnews.co akan terus memantau perkembangan situasi di Lebanon Selatan, termasuk verifikasi video dan informasi mengenai penggunaan bahan peledak dalam operasi Ali al-Taher.

kaje/red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *