AI News

WNI Jadi Tentara Bayaran Rusia di Ukraina? Ini Modus dan Iming-iming yang Ditawarkan

×

WNI Jadi Tentara Bayaran Rusia di Ukraina? Ini Modus dan Iming-iming yang Ditawarkan

Sebarkan artikel ini
Foto: Layanan Pers Kementerian Pertahanan Rusia pada hari Selasa, 31 Maret 2026 ini, tentara Rusia menembakkan peluncur granat ke arah posisi Ukraina di lokasi yang dirahasiakan di Ukraina.

Berdasarkan laporan Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina, Rusia diduga telah merekrut setidaknya delapan warga negara Indonesia (WNI) untuk bergabung dalam barisan militer mereka di medan perang Ukraina. Temuan ini termuat dalam dokumen resmi yang dipublikasikan melalui kanal Telegram pada 27 Agustus, seperti dilaporkan oleh The New Voice of Ukraine.

Langkah perekrutan warga asing ini disebut-sebut sebagai strategi Kremlin untuk memperkuat personel militer sekaligus dimanfaatkan sebagai instrumen propaganda guna menunjukkan dukungan internasional terhadap invasi mereka. Peningkatan perekrutan tenaga asing ini juga dipicu oleh semakin menyusutnya minat warga lokal Rusia untuk meneken kontrak dengan pihak militer Moskow.

Intelijen Ukraina mengungkapkan bahwa gelombang ketidakpuasan publik kian meningkat di tengah tekanan ekonomi, kondisi perang, serta ancaman mobilisasi baru. Dalam situasi tersebut, Moskow dikabarkan mengincar warga dari kawasan kepulauan Indonesia untuk dijadikan tenaga tempur tambahan.

Iming-Iming dan Modus Perekrutan

Para WNI dan warga asing lainnya yang direkrut biasanya dijanjikan berbagai fasilitas menarik, di antaranya:

Gaji dan kompensasi finansial dalam jumlah besar.

Penempatan di posisi non-tempur serta kemudahan proses memperoleh kewarganegaraan Rusia.

Tunjangan sosial tambahan bagi para rekrutan.

Namun, laporan tersebut menegaskan bahwa kenyataannya sering kali jauh berbeda dari janji awal. Banyak dari mereka yang akhirnya justru dikirim langsung ke garis depan pertempuran tanpa persiapan yang memadai.

Pola Serupa di Berbagai Negara

Pola rekrutan asing bukanlah hal baru bagi militer Rusia. Sebelumnya, skema serupa telah diterapkan untuk merekrut warga dari Nepal, Kuba, Kenya, hingga India. Setibanya di wilayah Rusia, sebagian besar rekrutan langsung diterjunkan ke medan perang tanpa pelatihan militer yang layak.

“Beberapa di antaranya tewas hanya dalam beberapa minggu pertama,” tulis laporan media tersebut.

Respon Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad

Senada dengan Dasco mengungkap adanya informasi dari otoritas intelijen Indonesia mengenai perekrutan WNI untuk menjadi tentara Rusia diawali iming-iming menggiurkan.

“Jadi kami mendapatkan informasi dari otoritas intelijen kita bahwa perekrutan tentara itu kemudian dilakukan oleh negara pihak ketiga, yang kemudian membuat seolah-olah itu adalah lowongan satuan pengamanan ataupun kemudian tenaga administrasi yang diiming-imingi oleh gaji yang besar,” kata Dasco di kompleks parlemen, Jakarta, Selasa (1/9/2026).

Data investigasi dari media independen Rusia, Important Stories, yang merujuk pada kebocoran Sistem Informasi dan Analisis Medis Terpadu Rusia pada April 2025, mencatat ada sekitar 48 negara yang warganya ikut bertempur di pihak Rusia.

Di Wilayah Moskow saja, diperkirakan lebih dari 1.500 warga asing direkrut ke dalam militer kurun waktu April 2023 hingga Mei 2024.

Sementara itu, pada April 2026, Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha mengonfirmasi bahwa lebih dari 300 tentara bayaran asing yang sempat membela Rusia kini telah tertangkap dan mendekam dalam tahanan Ukraina.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *