Ketua Komisi III DPRD Bontang, Amir Tosina mengancam memimpin aksi ke Pemkot Bontang bila bersikeras memakai kapal milik swasta.
Hal ini disampaikan Amir ke kepada awak media, Selasa (30/8/) terkait pilihan Pemkot Bontang untuk memakai kapal milik swasta setelah beberapa kendala menyebabkan gagal memakai kapal Pelni.
“Saya sebagai perwakilan masyarakat Sulbar di Bontang kami akan gelar aksi ke Pemkot Bontang untuk menekan kapal (Pelni) yang dijanjikan khusus untuk penyebrangan Bontang-Mamuju harus segera ada,” tegasnya.
Amir mengungkapkan alasan mengalihkan pilihan dari kapal Pelni ke kapal swasta tidak cukup masuk akal.
“Kalau alasannya panjang kapal pelni 99 meter, sementara panjang pelabuhan Mamuju 60 meter, tentu ini tidak sesuai standar tapi pertanyaannya pelabuhan mana yang mereka ukur, sebab Mamuju itu punya 4 Pelabuhan,” ujarnya.
Amir bahkan bermaksud berinisiatif untuk mengkonfirmasi langsung ke Bupati Mamuju via telpon.
Banyak pelabuhan di sana yang pantas, jadi tak ada alasan tidak menggunakan kapal pelni,” harapnya.
Rasa greget Amir hingga mengancam aksi ke Pemkot itu karena kapal milik swasta dianggap hanya akan memberatkan masyarakat yang menggunakan kapal tersebut.
“Penggunaan kapal swasta ini memberatkan masyarakat terutama harga tiketnya, jadi kami minta untuk menggunakan kapal Pelni,” kata Amir Tosina
Saat ini Pemkot Bontang terus upayakan Penambahan armada laut rute Bontang-Mamuju. Sebelumnya Pemkot sudah merencanakan menggunakan kapal Pelni.
Belakangan Pemkot mengusulkan penggunaan kapal milik swasta setelah beberapa kendala yang tidak memungkinkan memakai kapal Pelni.
kaje/spl











