Berdasarkan penilaian awal dari citra satelit oleh sekelompok geolog dan glasiolog, banjir bandang yang mematikan di Nepal pada hari Rabu (26/8) dipicu oleh bongkahan es raksasa yang patah dari sebuah gletser. Fenomena alam ini dikenal sebagai ice avalanche (longsoran es) yang meluncur sejauh ribuan kaki ke lembah di bawahnya.
Melansir The New York Time, menurut Daniel Shugar, seorang geolog di University of Calgary, Kanada, gletser di wilayah tersebut mengalami patahan bersih sehingga jatuh dari ketinggian vertikal sekitar satu kilometer ke dasar lembah.
Bongkahan es tersebut memiliki lebar sekitar 2.000 kaki dan jatuh dari ketinggian sekitar 17.000 kaki, merosot hampir 4.000 kaki.
Dugaan lainnya dari seorang glasiolog di University of Dundee, Skotlandia, Simon Cook menjelaskan bahwa kekuatan jatuh yang sangat besar menghancurkan es tersebut menjadi air dalam sekejap, menciptakan campuran yang bergerak sangat cepat.
Titik patahan gletser ini terjadi sekitar 40 mil di sebelah utara Kathmandu, mengalir ke barat laut menyusuri lembah menuju Sungai Bhotekoshi di perbatasan Nepal dan wilayah Tibet, China.
Kaitan dengan Bencana Serupa di Masa Lalu:
Para ahli mencatat bahwa peristiwa longsoran es ini mengingatkan pada bencana serupa di India pada tahun 2021, di mana keruntuhan gletser di Himalaya memicu banjir besar di negara bagian Uttarakhand dan menewaskan lebih dari 100 orang.
Deteksi Seismik dan Indikasi Perubahan Iklim
Kristen Cook, seorang geomorfolog di Université Grenoble Alpes di Prancis, menyatakan bahwa pembaca seismik lokal mendeteksi pergerakan massa besar menuruni lereng secara tiba-tiba pada pukul 8:40 pagi waktu setempat, yang langsung diikuti oleh sinyal aliran air.
US Geological Survey (USGS) awalnya mencatat kejadian ini sebagai gempa bumi berkekuatan Magnitudo 4.4, namun kemudian meralatnya bahwa longsoran tanah/es tersebut menghasilkan sinyal seismik yang setara dengan kekuatan Magnitudo 5.2.
Meskipun data cuaca lengkap belum tersedia, citra satelit menunjukkan berkurangnya lapisan salju sehari sebelumnya akibat suhu yang lebih hangat. Hal ini mengindikasikan bahwa kenaikan suhu akibat perubahan iklim mungkin mempercepat pencairan gletser, kendati demikian para ilmuwan masih meneliti faktor penyebab lainnya.
kaje/red











