JAKARTA, PARAGRAFNEWS.CO — Kepergian Guruh Soekarnoputra meninggalkan jejak panjang dalam perkembangan seni pertunjukan Indonesia. Putra bungsu Soekarno dan Fatmawati itu tidak hanya dikenal sebagai musisi, tetapi juga pencipta lagu, penari, koreografer, penata musik, penggagas pertunjukan kolosal, serta sosok yang membawa unsur tradisi Indonesia ke dalam karya-karya modern.
Ketertarikannya terhadap seni sudah tumbuh sejak kecil. Arsip Pusat Studi Arsip Statis Kepresidenan ANRI mencatat Guruh telah mempelajari tari Jawa, Sunda dan Bali sejak usia lima tahun. Ia juga belajar piano dan membentuk kelompok musik sejak muda.
Perjalanan tersebut kemudian berkembang menjadi karya-karya yang memadukan musik populer dengan unsur tradisional Nusantara.
Guruh Gypsy dan Pertemuan Musik Modern dengan Tradisi
Salah satu tonggak penting perjalanan musik Guruh adalah Guruh Gipsy, kelompok yang mempertemukan musik rock dengan warna musik tradisional, khususnya gamelan Bali.
artikel terkait:
Guruh Soekarnoputra Wafat di Usia 73 Tahun, Indonesia Kehilangan Seniman Besar
Guruh Soekarnoputra Akan Dimakamkan di Samping Makam Fatmawati di TPU Karet Bivak
Album Guruh Gipsy dirilis pada 1975. Dalam perjalanan kelompok tersebut, Guruh bekerja bersama sejumlah musisi penting, termasuk Keenan Nasution, Abadi Soesman dan Chrisye. ANRI mencatat album tersebut memiliki ciri perpaduan musik dengan gamelan Bali.
Eksperimen itu menjadi bagian penting dari karakter musikal Guruh: musik modern tidak harus dipisahkan dari akar budaya Indonesia.
Swara Mahardhika dan Seni Pertunjukan
Pada 27 Maret 1977, Guruh mendirikan Swara Mahardhika, kelompok yang kemudian berkembang menjadi Yayasan Swara Mahardhika.
Dari lingkungan inilah lahir berbagai pertunjukan yang menggabungkan musik, tari, koreografi dan tata panggung dalam skala besar.
ANRI mencatat sejumlah karya pertunjukan Guruh, antara lain Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra I pada 1979, Untukmu Indonesiaku pada 1980, Cinta Indonesia, serta Gilang Indonesia Gemilang pada 1986.
Pertunjukan tersebut menunjukkan bahwa bagi Guruh, musik tidak berdiri sendiri. Lagu, gerak tari, busana, koreografi dan visual panggung menjadi satu kesatuan pertunjukan.
“Untukmu Indonesiaku” dan Gagasan Kebangsaan
Salah satu karya yang menonjol adalah Untukmu Indonesiaku.
Karya tersebut bahkan dikembangkan menjadi film semi-dokumenter pada 1980. Dalam karya-karya pertunjukannya, Guruh banyak mengangkat tema Indonesia, kebudayaan dan identitas nasional.
Karakter tersebut menjadi salah satu ciri yang melekat pada karya-karyanya: memasukkan unsur budaya Nusantara ke dalam bentuk pertunjukan modern.
“Gita Cinta dari SMA” dan Musik Film
Nama Guruh juga tidak dapat dipisahkan dari musik film Indonesia.
Ia menjadi penata musik film Gita Cinta dari SMA yang dirilis pada 1979. Film tersebut dibintangi Rano Karno sebagai Galih dan Yessy Gusman sebagai Ratna. Data Indonesian Film Center mencatat Guruh sebagai salah satu penata musik film tersebut.
Lagu “Gita Cinta dari SMA” sendiri merupakan salah satu ciptaan Guruh dengan lirik yang ditulis bersama Eddy D. Iskandar. Lagu tersebut kemudian dikenal luas melalui sejumlah versi, termasuk versi Chrisye.
Karya itu kemudian terus hidup lintas generasi. Pada 2017, cerita Galih dan Ratna kembali diangkat dalam film Galih & Ratna, sementara lagu “Gita Cinta” juga mengalami berbagai versi rekaman.
Bukan Hanya “Gita Cinta”
Karya musik Guruh jauh lebih luas daripada satu lagu.
Album Puspa Ragam Karya Guruh Sukarno Putra yang dirilis pada 1998, misalnya, menghimpun sejumlah komposisi ciptaannya. Di dalamnya terdapat lagu seperti “Kala Sang Surya Tenggelam” dan “Zamrud Khatulistiwa”.
Sejumlah lagu ciptaan Guruh juga kemudian dinyanyikan oleh penyanyi-penyanyi besar Indonesia. Hal tersebut membuat komposisinya terus beredar bahkan ketika dibawakan ulang oleh generasi berikutnya.
Kiprah di Dunia Film
Selain Gita Cinta dari SMA, Guruh juga terlibat sebagai penata musik dalam sejumlah film Indonesia.
Indonesian Film Center mencatat keterlibatannya dalam Ali Topan Anak Jalanan, Puspa Indah Taman Hati, Gita Cinta dari SMA, Untukmu Indonesiaku, dan Sembilan Wali. Dalam Sembilan Wali yang dirilis 1985, Guruh juga tampil sebagai pemain selain terlibat dalam musik.
Atas keterlibatannya dalam musik film, Guruh tercatat memperoleh penghargaan musik dalam Festival Film Indonesia 1978.
“Zamrud Khatulistiwa” dan Lagu yang Terus Dikenang
Salah satu karya Guruh yang kemudian dikenal luas adalah “Zamrud Khatulistiwa”.
Lagu tersebut masuk dalam album Puspa Ragam Karya Guruh Sukarno Putra dan tercatat dinyanyikan oleh Glenn Fredly bersama Three S.
Karya seperti ini memperlihatkan kecenderungan Guruh menggunakan tema Indonesia bukan sekadar sebagai latar, tetapi sebagai gagasan utama dalam musik.
Karya Tari dan Koreografi
Di luar musik, tari menjadi bagian penting dari perjalanan keseniannya.
Sejak kecil Guruh telah mempelajari berbagai tradisi tari. Ketertarikan tersebut kemudian berkembang menjadi koreografi dan pertunjukan berskala besar.
Dalam sejumlah produksi Swara Mahardhika dan GSP Production, unsur tari menjadi bagian utama pertunjukan. Ia memadukan gerak tradisional dengan tata panggung modern sehingga seni tari dapat hadir dalam format pertunjukan populer.
Pada 1987, misalnya, Guruh menggelar pertunjukan kolosal “Jak Jak Jak Jakarta” dalam rangka ulang tahun Jakarta. Pada tahun yang sama juga digelar “Gempita Swara Mahardhika” untuk memperingati 10 tahun Swara Mahardhika.
Dari “Renjana” hingga Penghargaan Internasional
Karya Guruh juga pernah menembus panggung internasional.
ANRI mencatat komposisinya “Renjana” mengikuti Festival Lagu Populer Tingkat Nasional pada 1976.
Beberapa tahun kemudian, lagu “Kembalikan Baliku” mewakili Indonesia dalam World Popular Song Festival di Tokyo, Jepang. Karya tersebut memperoleh Kawakami Award dan Audience Selections Award. Lagu yang sama juga tercatat memenangkan Festival Lagu Populer Tingkat Nasional pada 1987.
Pencapaian itu memperlihatkan salah satu sisi penting perjalanan Guruh: membawa gagasan dan warna Indonesia ke dalam format musik populer yang dapat diterima di panggung internasional.
Warisan Guruh: Ketika Tradisi dan Populer Bertemu
Jika ditarik dari keseluruhan perjalanan tersebut, karya Guruh Soekarnoputra memiliki satu benang merah: pertemuan antara kebudayaan Indonesia dan ekspresi seni modern.
Ia tidak hanya menciptakan lagu. Ia membangun pertunjukan yang memadukan musik, tari, koreografi, kostum, tata panggung dan gagasan kebangsaan.
Dari Guruh Gipsy, Swara Mahardhika, karya-karya pagelaran, musik film hingga lagu seperti “Gita Cinta dari SMA” dan “Zamrud Khatulistiwa”, jejak Guruh tersebar di berbagai bidang seni.
Karena itu, mengenang Guruh Soekarnoputra bukan hanya mengenang seorang putra Soekarno yang terjun ke dunia seni. Lebih dari itu, perjalanan karyanya menjadi bagian dari catatan perkembangan seni pertunjukan dan musik populer Indonesia.
Sumber: Pusat Studi Arsip Statis Kepresidenan ANRI, Indonesian Film Center, dan sumber referensi musik.
Penyusun: Redaksi Paragrafnews.co