Komisi III DPRD Bontang meninjau pembangunan turap di jalan Brokoli Kelurahan Gunung Elai. Kunjungan lapangan tersebut didampingi Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota (PUPRK) Kota Bontang, Kontraktor pemenang tender dan ketua RT setempat.
Kepala Dinas PUPR Bontang, Usman mengatakan progres pengerjaan proyek tersebut masih minim lantaran pengerjaannya baru dimulai pada bulan Agustus 2022. Selain itu cuaca yang tidak menentu jadi salah satu faktor penghambat proses pengerjaan.
“Progres baru sekitar 22 persen. Tapi akan kami maksimalkan. Mudah-mudahan tidak ada hambatan,” ujarnya, Selasa (4/10).
Usman menyebut, proyek tersebut nilai anggarannya sebesar Rp 16,7 miliar berasal dari bantuan keuangan provinsi (Bankeu). Sedangkan, pengerjaan turap tersebut dilakukan secara paralel serta akan dipasang rangka siring di sisi kiri dan kanan sungai dengan panjang 320 meter dan tinggi 6 meter.
Kata Usman, tidak hanya membuat turap kontraktor juga akan mengerjakan jalan sepanjang 400 meter. Dimana jalan tersebut akan menghubungkan Kelurahan Gunung Elai dengan Perumahan Hop Badak LNG.
“Kalau cuaca bagus kami mulai pengecoran,” terangnya.
Sementara, Dany selaku Kepala Proyek mengaku optimistis pengerjaan dapat selesai tepat waktu walaupun progres saat ini baru mencapai 22 persen dan proyek ditarget rampung pada Desember mendatang. Pihaknya mengakui, sempat terkendala material batu gunung, namun saat ini sudah dapat diatasi.
“jumlah pekerja kami sebanyak 77 orang dan Kami bagi dua shift kerja, kerja siang dan malam. Optimis selesai tepat waktu, kendalanya hanya cuaca yang sulit ditebak. Tapi itu bukan alasan,” tuturnya.
Ketua Komisi III DPRD Bontang Amir Tosina merasa pesimis kontraktor pelaksana mampu menyelesaikan proyek pengerjaan turap tersebut. Mengingat waktu tinggal 2 bulan sedangkan progres baru mencapai 22 persen.
“Dikerjakan sudah sekitar dua bulan tapi masih 22 persen. Saya tidak yakin bisa diselesaikan hingga akhir tahun mengingat cuaca juga tidak menentu. Seperti hujan turun hingga luapan air menggenangi sungai,” ungkapnya.
Amir menyayangkan apabila proyek tersebut sampai tidak selesai lagi seperti proyek lainnya. Mengingat anggaran tersebut merupakan Bankeu dari provinsi. Ia menyebut Pemprov Kaltim bisa-bisa tidak mau membantu Pemkot Bontang lagi karena pekerjaan yang mereka bantu selalu tidak dapat diselesaikan.
“Saya harap PUPRK benar-benar memantau pemenang tender saat bekerja dengan dua sift. Kalau perlu tambah lagi pekerjanya dan dibuat 3 sift,”terangnya.
Selain itu, Amir menyoroti proses lelang proyek oleh Pemerintah. Ia juga meminta, Pemerintah melakukan lelang proyek diawal tahun sehingga kontraktor pemenang bisa bekerja maksimal karena waktu pengerjaannya tidak mepet.
“Sayang kalau sampai dana Bankeu ini tidak rampung. Pemkot juga harus efaluasi kenapa lelang proyek baru dimulai Agustus. Apa lagi ini menyangkut penanganan banjir,” tuturnya.
Iapun berharap, kontraktor pemenang tender mampu menyelesaikan pengerjaan turap tersebut tepat waktu.
“Saya harap ini bisa rampung tepat waktu dan tidak gagal seperti proyek di Selambai Loktuan,” tutupnya.
Baca juga berita lainnya di Google News klik di sini >>
kaje/red











