Rubrik

Digital Leadership Sebagai Solusif Kepemimpinan Diera Digitalisasi

×

Digital Leadership Sebagai Solusif Kepemimpinan Diera Digitalisasi

Sebarkan artikel ini
Digital Leadership Diera Digitalisasi
Penulis Sadly Jaya M Badko HMI Kaltim-Kaltara / ist

Perkembangan pengetahuan terus berlangsung dan memberikan dampak pada pola kepemimpinan serta pola-pola kerja manusia sebagai pemimpin (leader) maupun sebagai manusia sebagai komsumtif (penikmat) di masa mendatang.

Seiring dengan perkembangan pengetahuan, berbanding lurus dengan perkembangan teknologi yang sangat berpengaruh dalam kehidupan seseorang di tengah-tengah masyarakat. Arus perkembangan yang tidak dapat terbendung akibat kemajuan zaman sehingga seseorang harus mempersiapkan diri agar tidak tergerus dengan yang ada di abad ke 21 saat ini.

Selain itu perkembangan teknologi juga berpengaruh pada sistem industrialisasi, mulai dari era industry 1.0 hingga era industry 4.0 sampai pada era sosity 5.0. Revolusi Industri dapat diartikan perubahan sistem atau cara kerja manusia terjadi, karena didorong oleh diharapkan adanya peningkatan suatu produksi yang menggunakan alat-alat mekanis.

Istilah Revolusi Era Industri 1.0 sampai 4.0 itu sendiri adalah penanda bahwasannya perubahan besar dalam dunia industri tersebut telah terjadi sebanyak 4 kali sehingga melahirkan 4 era yang berbeda. Jika ditinjau dari perspektif sejarah perkembangan revolusi industry hingga menjadi 4.0 terbagi menjadi beberapa fase.

Penulis akan menguraikan secara sederhana point-point yang disampaikan oleh Prof. Laode Komaruddin, Rektor Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) dalam forum Latihan Kader III (Advance Training) Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam Sumatera Bagian Selatan.

Mengatakan Bahwa Revolusi Era Industry 1.0, dapat diartikan pada mulanya muncul pada abad ke-18 (1760–1840) dengan ditandai adanya penemuan mesin uap pada tahun 1776 oleh James Watt di negara Inggris sehingga membawa perubahan besar di berbagai sector pada saat itu. Kemudian sekitar awal abad ke-19 (1870-an) berfokus kepada efisiensi mesin di setiap lini (Assembly Line) dalam proses produksi karena ditemukannya tenaga listrik kemudian disebut Revolusi Era Industri 2.0.

Perubahan tidak sampai disitu saja, pada tahun 1970-an dipicu oleh perkembangan mesin-mesin pintar (Komputer & Software) berbasis teknologi otomatis yang perlahan menggantikan peran-peran manusia di lapangan, sehingga pada masa ini disebut masa revolusi era industry 3.0 karena aktivitas masyarakat pada saat itu menggunakan computer (data) dalam prosesnya dan pada era inilah dimulainya digitalisasi khususnya di dunia industri. Dan memasuki awal abad 21 di tahun 2011 di Jerman sampai era yang saat ini.

Dari perkembangan revolusi era industry 4.0 berbanding dengan kemajuan society 5.0 (Super Smart Society) tersebut sampai di abad 21 ini mengharuskan manusia untuk beradabtasi dengan kondisifitas yang ada dan kemajuan teknologi (Digital) karena menjadi lokomotif perubahan sosial.

Segala informasi dan ilmu pengetahuan tidak lagi disampaikan melalui analog, akan tetapi saat ini menggunakan sistem informasi digital sebagai pusat data (Big Data). Oleh karenanya perkembangan zaman hari ini yang harus diketahui oleh setiap kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di seluruh Indoensia agar dapat memahami dan mempersiapkan apa saja yang perlu di siapkan oleh kader dikemudian hari kita jalani. Karena pengembangan teknologi lebih lanjut dan cepat seperti internet, komputerisasi, dan lain sebagainya.

Bahkan kendaraan otonom merevolusi setiap proses mulai dari produksi hingga distribusi dan berfokus kepada keberlanjutan (Sustainability). Di dibeberapa negara aktivitas manusia sudah di gantikan oleh mesin dan robot melakukan urutan terprogram tanpa campur tangan manusia.

Big data (Sains Data) yang ada pada sistem komputerisasi dan data-data yang dimiliki oleh seseorang kemudian disusun secara tersistematis melalui program yang ada pada perangkat digital. Dengan big data yang sudah terpusat tersebut dapat digunakan sebagai sebuah instrument untuk memberikan dampak positif terhadap kebutuhan manusia, agar dapat tercapai kesejahtraan pada ummat manusia.

Oleh karenanya yang sering terjadi saat ini adalah banyaknya pencurian data, sebab siapa yang memiliki data pada hari ini maka akan menguasai informasi. Maka tidak heran jika media sosial sering terjadi pengambil alihan akun seperti; Instagram, Facebook, Twitter dan lain sebagainya sehingga seseorang yang memiliki big data akan mengantarkan masyarakat pada kondisi Super Smart Society (Society 5.0).

Maka dalam konteks ini di perlukan kepemimpinan baru, yang mampu menjadi leader di era digital, step satu harus dilewati yakni kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seseorang kader HMI seperti melek (paham) akan penggunaan digital seperti literasi digital yang harus dikuasai. Missalnya saat ini kita tidak lagi hanya membuka website saja akan tetapi juga mampu membuat website serta program-program lainnya.

Kemampuan Leadership ini tidak akan hadir begitu saja tanpa ada nya proses yang mendasari seseorang dalam mempersiapkan diri menjadi leader (pemimpin) dikemudian hari seperti, literasi computer, literasi digital, pusat informasi, dan kemampuan untuk membangun website. Dari basic digital yang dimiliki seseorang dalam hal ini kader hmi akan mampu mengiktu perkembangan revolusi industry 4.0 dan memiliki kemampuan leadership dalam kemampuan digitalisasi.

Penulis | Sadly Jaya M Badko HMI Kaltim-Kaltara
Editor | Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *