NewsViral

Viral Shamsi Ali Debat dengan Demonstran Pro-Papua di New York, Singgung Penembakan Warga Sipil

×

Viral Shamsi Ali Debat dengan Demonstran Pro-Papua di New York, Singgung Penembakan Warga Sipil

Sebarkan artikel ini
Shamsi Ali berdialog dengan demonstran pro-Papua di New York.
Shamsi Ali berdialog dengan demonstran pendukung kemerdekaan Papua di New York. Percakapan membahas Natalius Pigai dan kasus kematian sopir asal Toraja, Aris Sanda. (Dok. video/media sosial)

Paragrafnews.co — Video ulama Indonesia Shamsi Ali berdialog dengan seorang demonstran pendukung kemerdekaan Papua Barat di New York, Amerika Serikat, viral di media sosial. Percakapan tersebut berlangsung di jalan sekitar kawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan membahas sejumlah isu sensitif, mulai dari posisi Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai hingga kasus penembakan warga sipil di Papua.

Dalam video tersebut, Shamsi Ali tampak mendatangi seorang demonstran yang memegang atribut Bintang Kejora. Percakapan awal berlangsung dalam bahasa Inggris sebelum berkembang menjadi perdebatan mengenai Papua, pemerintah Indonesia, serta kasus kematian seorang sopir asal Toraja.

Shamsi Ali Tanyakan Natalius Pigai

Salah satu bagian percakapan yang menjadi perhatian adalah ketika Shamsi Ali menyinggung Natalius Pigai, tokoh asal Papua yang kini menjabat Menteri HAM RI.

Shamsi Ali menyebut Pigai sebagai orang Papua dan menanyakan pandangan demonstran terhadap posisi Pigai di pemerintahan Indonesia.

Demonstran tersebut kemudian menyebut Pigai sebagai “puppet” atau “boneka” pemerintah Indonesia. Ia juga melontarkan tuduhan terkait rekam jejak Pigai di Timor Timur dan Papua Barat.

Pernyataan tersebut merupakan klaim dari demonstran dalam percakapan video dan tidak dapat dianggap sebagai fakta yang telah terbukti hanya berdasarkan video tersebut.

Kementerian HAM sendiri sebelumnya pernah terlibat polemik dengan Shamsi Ali. Pada Juli 2026, Kementerian HAM menerbitkan pernyataan yang menuduh Shamsi Ali turut menyebarkan informasi yang dinilai hoaks terkait pernyataan Natalius Pigai. Pigai membantah pernah menyampaikan pernyataan yang beredar tersebut.

Perdebatan Berlanjut ke Kasus Penembakan Sopir di Papua

Percakapan kemudian bergeser ke kasus kematian seorang sopir asal Toraja yang terjadi di Papua Pegunungan.

Shamsi Ali mempertanyakan alasan seorang warga sipil yang bekerja sebagai sopir sampai menjadi korban pembunuhan.

Ia menyebut korban sebagai warga dari Sulawesi dan menanyakan kepada demonstran mengapa orang tersebut dibunuh.

Pertanyaan itu merujuk pada kasus Aris Sanda, sopir lajuran asal Toraja yang tewas setelah kendaraan yang dikemudikannya dihentikan kelompok bersenjata di wilayah Papua Pegunungan pada September 2026.

Menurut laporan detikcom, Aris disebut sempat disandera dan dipaksa menyatakan dukungan terhadap Papua merdeka sebelum kemudian ditemukan meninggal dunia di dalam kendaraan yang terbakar.

Demonstran Klaim Sopir Sudah Diperingatkan

Menanggapi pertanyaan Shamsi Ali, demonstran dalam video mengatakan bahwa korban dibunuh karena sebelumnya telah mendapat peringatan.

Ia kemudian mengaitkan hal tersebut dengan klaim bahwa sejumlah profesi sipil seperti sopir, tenaga kesehatan dan guru disebut memiliki fungsi lain yang berkaitan dengan kepentingan militer Indonesia.

Ketika Shamsi Ali meminta bukti atas pernyataan tersebut, demonstran menjawab bahwa bukti dapat dilihat melalui YouTube.

Bagian ini penting dicermati karena pernyataan mengenai profesi sipil sebagai bagian dari fungsi militer merupakan klaim demonstran dalam video, bukan fakta yang secara otomatis terverifikasi hanya karena disampaikan dalam percakapan tersebut.

Polisi: Aris Sanda Bukan Intelijen

Klaim tersebut juga berhadapan dengan keterangan aparat Indonesia mengenai kasus Aris Sanda.

Kepala Satgas Humas Operasi Damai Cartenz Kombes Pol Yusuf Sutejo menyatakan Aris merupakan warga sipil yang bekerja sebagai sopir lajuran dan membantah informasi yang menyebut korban merupakan anggota intelijen.

Dengan demikian, terdapat perbedaan klaim yang jelas dalam video dan keterangan aparat mengenai status korban.

Paragrafnews.co tidak menemukan dasar yang cukup untuk menyatakan bahwa Aris Sanda merupakan anggota intelijen atau bagian dari operasi militer. Keterangan resmi yang dikutip media menyebut Aris sebagai warga sipil.

Shamsi Ali Tolak Tuduhan “Hipokrit”

Perdebatan kemudian memanas ketika demonstran menuduh Shamsi Ali bersikap hipokrit.

Demonstran mengaitkan pertanyaan Shamsi Ali tentang Papua dengan sikapnya mengenai konflik Israel-Palestina.

Shamsi Ali menolak membawa pembicaraan tersebut ke isu Israel dan Palestina. Ia meminta demonstran fokus pada pertanyaan mengenai warga sipil yang dibunuh di Papua.

Dalam percakapan tersebut, Shamsi Ali juga mempertanyakan logika pembunuhan terhadap warga sipil.

“Then kill the military! Not the innocent people!”

Pernyataan itu disampaikan Shamsi Ali dalam konteks mengecam pembunuhan terhadap orang yang menurutnya tidak terlibat dalam konflik bersenjata.

Shamsi Ali Kecam Pembunuhan Warga Sipil

Pada bagian akhir video, perdebatan semakin keras.

Shamsi Ali menegaskan bahwa apabila konflik ditujukan kepada aparat atau pihak bersenjata, warga sipil yang tidak terlibat seharusnya tidak menjadi sasaran.

Ia kemudian mengecam pembunuhan terhadap warga yang disebutnya tidak bersalah.

Sementara itu, demonstran tetap mempertahankan narasi bahwa warga Indonesia yang bekerja di Papua dapat memiliki keterkaitan dengan kepentingan militer.

Kedua pandangan tersebut tampak berseberangan dalam video dan tidak menghasilkan kesepakatan di antara keduanya.

Kasus Aris Sanda Menjadi Titik Penting Perdebatan

Kasus Aris Sanda menjadi konteks penting karena terjadi hanya beberapa hari sebelum video dialog tersebut viral.

Aris dilaporkan membawa penumpang dari Wamena menuju Mbua pada 15 September 2026. Kendaraannya kemudian dihentikan kelompok bersenjata. Sejumlah penumpang disebut dilepaskan, sementara Aris kemudian ditemukan meninggal dunia di dalam kendaraan yang terbakar.

Media juga melaporkan adanya video ketika Aris berada dalam penguasaan kelompok bersenjata dan dipaksa mengucapkan pernyataan berkaitan dengan Papua merdeka.

Satgas Operasi Damai Cartenz kemudian menegaskan bahwa Aris merupakan warga sipil dan membantah klaim bahwa dirinya merupakan anggota intelijen.

Fakta-fakta tersebut menjadi relevan ketika Shamsi Ali mempertanyakan kepada demonstran mengapa seorang sopir sipil dapat menjadi korban kekerasan.

Video Shamsi Ali Viral di Media Sosial

Percakapan tersebut kemudian menyebar luas di media sosial dan mendapat perhatian karena memperlihatkan dialog langsung antara tokoh Indonesia yang tinggal di Amerika Serikat dengan demonstran yang membawa atribut Papua.

Laporan media menyebut pertemuan tersebut berlangsung setelah Shamsi Ali selesai menyampaikan khutbah di sekitar kawasan PBB di New York. Demonstran terlihat membawa atribut yang berkaitan dengan gerakan pro-kemerdekaan Papua Barat.

Video tersebut menarik perhatian bukan semata karena perdebatan politik mengenai Papua, tetapi juga karena kedua pihak membahas persoalan yang lebih mendasar, yakni perlindungan warga sipil di tengah konflik bersenjata.

Di satu sisi, demonstran menyampaikan tuduhan mengenai keterlibatan warga sipil dalam fungsi militer. Di sisi lain, Shamsi Ali mempertanyakan bukti atas tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa warga sipil tidak seharusnya menjadi sasaran kekerasan.

Kesimpulan

Percakapan Shamsi Ali dengan demonstran Papua di New York memperlihatkan adanya perbedaan pandangan tajam mengenai konflik Papua, posisi pemerintah Indonesia, Natalius Pigai, serta kasus kematian Aris Sanda.

Namun, sejumlah pernyataan yang muncul dalam percakapan merupakan klaim masing-masing pihak dan perlu dibedakan dari fakta yang telah diverifikasi.

Dalam kasus Aris Sanda, keterangan aparat yang diberitakan media menyatakan korban merupakan warga sipil dan bukan anggota intelijen. Sementara klaim sebaliknya muncul dalam narasi kelompok bersenjata dan disampaikan kembali oleh demonstran dalam video.

Karena itu, konteks lengkap video penting dipahami agar perdebatan tersebut tidak dipotong hanya menjadi pertentangan politik, tetapi juga dilihat dari persoalan kekerasan terhadap warga sipil dan verifikasi informasi di tengah konflik Papua.

Sumber: detikcom, Kementerian HAM RI, CEPOS Online, serta laporan media terkait kasus Aris Sanda.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2024 - 2026 paragrafnews.co. All Rights Reserved.