Militer & Pertahanan

Mi-35M ke Papua, Bukan Berarti Apache Tak Dipakai: Ini Perbedaan Peran Keduanya

×

Mi-35M ke Papua, Bukan Berarti Apache Tak Dipakai: Ini Perbedaan Peran Keduanya

Sebarkan artikel ini
Mi-35M dan Apache AH-64E TNI AD untuk misi di Papua
Ilustrasi: AH-64E Apache (Kiri): Helikopter serang murni buatan AS yang ramping dengan sensor radar canggih di atas baling-baling, dirancang khusus untuk daya gempur presisi tinggi tanpa ruang angkut penumpang. Mi-35 Rusia (Kanan): Helikopter serbu buatan Rusia bertubuh besar dengan kabin tengah yang mampu membawa 8 prajurit sekaligus memberikan bantuan tembakan. (Gemini Ai)

JAKARTA, Paragrafnews.co – Pengerahan helikopter militer ke Papua kembali menjadi perhatian setelah Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak menyampaikan bahwa TNI AD akan mengerahkan dua helikopter Mi-35M buatan Rusia ke Papua.

Namun, ada satu hal yang perlu diluruskan. Kehadiran Mi-35M di Papua tidak otomatis berarti TNI AD meninggalkan atau lebih memilih helikopter serang AH-64E Apache yang juga dimiliki TNI AD.

Keduanya memang sama-sama merupakan helikopter tempur, tetapi mempunyai desain dan karakteristik operasional yang berbeda.

ANTARA melaporkan pada 19 September 2026 bahwa dua Mi-35M tersebut sudah berada di pangkalan Pusat Penerbangan Angkatan Darat (Puspenerbad) di Semarang dan direncanakan digunakan untuk membantu pengiriman logistik ke wilayah Papua.

Lantas, apa yang membuat Mi-35M menarik untuk misi di Papua?

Mi-35M Bukan Sekadar Helikopter Serang

Mi-35M merupakan pengembangan dari keluarga Mi-24/35 Rusia yang memiliki karakter transport-tempur.

Artinya, helikopter ini tidak hanya dirancang untuk memberikan dukungan tembakan dari udara, tetapi juga memiliki kemampuan membawa personel dan muatan.

artikel terkait:

Mi-35M Rusia Bikin TNI AD Makin Gahar! Ini Deretan Keunggulan Helikopter Tempur yang Jadi Sorotan

TNI AD Kedatangan Mi-35M Rusia, Helikopter Serang Baru Ini Bawa Sejumlah Upgrade Penting

Rostec, perusahaan pertahanan Rusia, menyebut Mi-35M dapat membawa hingga delapan personel, selain membawa muatan internal maupun eksternal dan melakukan evakuasi korban. Helikopter tersebut juga dirancang untuk beroperasi dari landasan beton maupun permukaan tidak beraspal pada ketinggian hingga sekitar 4.000 meter.

Karakter tersebut menjadi relevan ketika sebuah operasi tidak hanya membutuhkan daya tembak, tetapi juga mobilitas personel, distribusi logistik, dan dukungan ke lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Dalam konteks Papua, kebutuhan seperti itu dapat menjadi pertimbangan operasional yang penting.

TNI AD Memang Menyebut Mi-35M untuk Logistik Papua

Fakta terbaru yang tersedia justru menunjukkan misi yang berbeda dari asumsi bahwa Mi-35M dikerahkan semata-mata untuk operasi serangan.

KSAD Maruli Simanjuntak menyebut helikopter baru tersebut akan digunakan untuk membantu pengiriman logistik ke wilayah Papua.

Menurut Maruli, TNI AD selama ini memang mengerahkan helikopter untuk membawa kebutuhan masyarakat, termasuk sandang, pangan, dan papan ke wilayah yang sulit dijangkau.

Dengan demikian, pembahasan mengenai Mi-35M di Papua lebih tepat ditempatkan dalam konteks dukungan mobilitas dan logistik, bukan sebagai bukti bahwa TNI AD telah memilih Mi-35M sebagai pengganti Apache.

Lalu Bagaimana dengan AH-64E Apache?

TNI AD tetap memiliki delapan unit AH-64E Apache Guardian.

Helikopter tersebut secara resmi memperkuat Skadron 11/Serbu Puspenerbad dan merupakan platform yang dirancang khusus sebagai helikopter serang.

TNI AD menjelaskan Apache memiliki berbagai sistem sensor dan persenjataan, termasuk meriam M230 30 mm, roket Hydra 70 serta sistem rudal dan sensor yang mendukung misi serangan udara-ke-darat.

Kemampuan Apache juga tidak berhenti pada persenjataan.

AH-64E dilengkapi sistem avionik, sensor elektro-optik dan radar Longbow yang dirancang untuk membantu awak memperoleh informasi mengenai sasaran serta situasi di sekitar medan operasi.

Karena itu, membandingkan Apache dan Mi-35M hanya berdasarkan “mana yang lebih cocok untuk Papua” akan terlalu menyederhanakan persoalan.

Perbedaan Utamanya Ada pada Konsep Misi

Secara sederhana, perbedaan keduanya dapat dilihat dari konsep penggunaannya.

Mi-35M memiliki karakter transport-tempur. Selain memberikan dukungan tembakan, desainnya memungkinkan pengangkutan personel dan muatan.

Sementara AH-64E Apache merupakan helikopter serang yang dikembangkan dengan fokus utama pada kemampuan menyerang sasaran darat, pengintaian bersenjata, sensor dan integrasi sistem persenjataan.

Dokumen TNI AD sendiri menyebut Apache sebagai helikopter yang berfungsi sepenuhnya sebagai attack helicopter.

Dengan kata lain, perbedaan tersebut lebih tepat dipahami sebagai perbedaan fungsi dan konsep operasi, bukan persoalan sederhana mengenai helikopter mana yang lebih unggul.

Papua Membutuhkan Lebih dari Sekadar Daya Tembak

Geografi Papua menjadi faktor penting dalam operasi penerbangan militer.

Wilayah pegunungan, lembah, hutan dan keterbatasan akses jalan membuat transportasi udara memiliki peran besar dalam menjangkau sejumlah daerah.

Dalam kondisi seperti itu, sebuah helikopter yang dapat membawa personel, logistik sekaligus memberikan dukungan dari udara mempunyai nilai operasional tersendiri.

Karakter Mi-35M sebagai helikopter transport-tempur membuatnya memiliki fleksibilitas tersebut.

Rostec menyebut Mi-35M mampu membawa personel, kargo, melakukan evakuasi korban dan memberikan dukungan tembakan. Produsen tersebut juga mencantumkan kemampuan operasi pada lokasi hingga sekitar 4.000 meter di atas permukaan laut.

Namun, spesifikasi pabrikan tentu tidak otomatis berarti seluruh kemampuan tersebut dapat digunakan dalam kondisi apa pun. Kinerja aktual tetap dipengaruhi konfigurasi, cuaca, beban, kondisi landasan, perawatan dan prosedur operasi.

Bagaimana dengan Soal Ketinggian?

Medan pegunungan Papua membuat kemampuan operasi di ketinggian menjadi salah satu aspek yang menarik untuk diperhatikan.

Mi-35M memiliki spesifikasi kemampuan operasi pada ketinggian tertentu, termasuk kemampuan lepas landas dan mendarat dari permukaan yang tidak beraspal menurut data produsennya.

Tetapi perlu dibedakan antara angka spesifikasi teknis dan kondisi operasi sebenarnya.

Semakin tinggi suatu lokasi, semakin besar tantangan penerbangan karena densitas udara berkurang. Beban yang dibawa, temperatur, kondisi angin, panjang area pendaratan serta faktor teknis lainnya dapat memengaruhi performa helikopter.

Karena itu, tidak tepat menyimpulkan bahwa Mi-35M otomatis lebih unggul di seluruh wilayah pegunungan Papua hanya berdasarkan angka ketinggian maksimum.

Benarkah Apache Terikat Aturan Amerika Serikat?

Bagian ini sering muncul dalam pembahasan mengenai alutsista Amerika Serikat.

Memang benar bahwa peralatan pertahanan asal AS yang ditransfer melalui skema tertentu seperti Foreign Military Sales (FMS) memiliki ketentuan mengenai penggunaan, keamanan dan pengawasan end-use.

Pemerintah AS menjelaskan bahwa program End-Use Monitoring (EUM) digunakan untuk memastikan peralatan pertahanan asal AS digunakan sesuai ketentuan transfer. Penerima juga memiliki kewajiban tertentu terkait penggunaan dan pengamanan peralatan tersebut.

Namun, dari fakta tersebut tidak bisa langsung disimpulkan bahwa Apache tidak dapat digunakan di Papua karena tekanan diplomasi atau persoalan HAM.

Tidak ditemukan sumber resmi yang menyatakan TNI AD memilih Mi-35M untuk Papua karena Apache dibatasi oleh pemerintah AS.

Karena itu, klaim tersebut sebaiknya tidak ditulis sebagai fakta dalam artikel berita.

Apache Justru Masih Mendapat Perawatan dan Sertifikasi

Ada fakta terbaru yang penting.

Pada 18–21 Agustus 2026, Dinas Kelaikan TNI AD melaksanakan sertifikasi kelaikan helikopter AH-64E Apache di Skadron 11/AAJ Puspenerbad, Semarang.

Proses tersebut mencakup verifikasi dokumen, pemeriksaan kesesuaian, ground test dan flight test.

TNI AD menyatakan sertifikasi dilakukan untuk memastikan aspek kelaikan, keselamatan, keandalan dan kesiapan operasional helikopter.

Fakta ini menunjukkan bahwa Apache tetap menjadi bagian dari kekuatan operasional TNI AD.

Dengan demikian, munculnya Mi-35M di Papua tidak dapat dibaca sebagai tanda bahwa Apache sudah tidak digunakan atau dianggap tidak diperlukan.

Bagaimana Perbandingan Keduanya?

Berikut gambaran sederhananya:

Aspek Mi-35M AH-64E Apache
Konsep Transport-tempur Helikopter serang
Awak 2 2
Angkut personel Hingga 8 menurut produsen Tidak memiliki kabin angkut pasukan seperti Mi-35
Dukungan tembakan Ya Ya
Persenjataan Konfigurasi sesuai pengguna M230, Hydra 70 dan berbagai sistem persenjataan
Sensor Sistem elektro-optik sesuai konfigurasi Sensor dan radar Longbow
Peran logistik Memungkinkan Bukan fungsi utama
Evakuasi Memungkinkan Bukan fungsi utama
Fokus utama Mobilitas + dukungan tempur Serangan dan dukungan udara

Data mengenai kemampuan Mi-35M sebagai platform transport-tempur berasal dari produsen Rusia, sedangkan karakter Apache sebagai attack helicopter dan sistem persenjataannya dijelaskan oleh TNI AD.

Jadi, Mengapa Mi-35M Dikerahkan ke Papua?

Jawaban paling aman berdasarkan fakta yang tersedia adalah: karena TNI AD menyatakan helikopter tersebut akan digunakan untuk membantu pengiriman logistik ke Papua.

Karakter Mi-35M yang dapat menggabungkan kemampuan angkut dan dukungan tempur juga membuat platform tersebut relevan untuk misi dengan kebutuhan multifungsi.

Sementara itu, Apache mempunyai karakter yang berbeda dan tetap dipertahankan sebagai bagian dari kemampuan serang Puspenerbad.

Tidak ada bukti resmi yang cukup untuk menyatakan bahwa TNI AD secara keseluruhan “lebih memilih Mi-35M daripada Apache” untuk Papua.

Justru data terbaru menunjukkan keduanya berada dalam konteks penggunaan yang berbeda.

Kesimpulan

Kehadiran Mi-35M di Papua membuka pembahasan menarik mengenai bagaimana TNI AD memilih platform udara berdasarkan kebutuhan misi.

Mi-35M memiliki karakter transport-tempur, sehingga selain kemampuan dukungan tembakan, helikopter tersebut dapat membawa personel, muatan dan mendukung evakuasi. TNI AD sendiri menyebut dua Mi-35M yang baru tiba di Semarang akan dikerahkan untuk membantu pengiriman logistik ke Papua.

Sementara itu, AH-64E Apache merupakan helikopter serang dengan sistem sensor dan persenjataan yang dirancang untuk misi udara-ke-darat. Delapan unit Apache telah menjadi bagian dari kekuatan Puspenerbad sejak 2018 dan pada Agustus 2026 masih menjalani proses sertifikasi kelaikan.

Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukan “Mi-35M atau Apache, mana yang lebih baik?”, melainkan “platform mana yang paling sesuai dengan kebutuhan misi tertentu?”

Untuk Papua, fakta yang tersedia saat ini menunjukkan Mi-35M mendapat peran penting dalam mendukung mobilitas dan distribusi logistik, sedangkan Apache tetap menjadi salah satu aset utama TNI AD untuk kemampuan serang udara-ke-darat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *