Anggota Komisi II DPRD Bontang Nursalam menyoroti petugas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) ia mempertanyakan sistem kerjanya yang terkesan memilah-milah sampah yang hendak diangkut.
baca juga: Nursalam Sayangkan Serapan APBD di Triwulan II Baru 29,08 Persen
Menurutnya, petugas TPA memilah-milah sampah ketika diangkut, sebab seperti potongan dahan pohon, bunga dan triplek tidak mau diangkut bahkan lebih sering dihambur.
“Ini saya heran, apakah memang ini ditugaskan seperti itu. Saya sudah coba komunikasi dengan Camat namun, jawabannya TPA tidak menerima sampah jenis itu,” ungkapnya pada Rapat Paripurna di Auditorium Taman 3D, Jalan Awang Long, Kelurahan Bontang Baru, Bontang, Kalimantan Timur, Selasa (9/8).
Namun, menurutnya, semua barang yang sudah tidak terpakai dan dibuang tentu merupakan sampah dan namanya sampah seharusnya semuanya diangkut dan diterimah oleh TPA.
“Dirumah saya saja tidak mau diambil, bagaimana dengan masyarakat biasa yang memang tidak tahu mau melapor kesiapa,” terangnya.
Ia menilai, ketika TPA benar tidak mau menerima sampah bekas potongan dahan dan triplek maka pemerintah harus melakukan evaluasi. Sebab, ia menilai percuma digelontorkan anggaran kalau sampah saja dipilah-pilah.
“Kalau sampah saja dipilah-pilah nanti dicoret saja anggarannya,” tegasnya.
Politisi Partai Golkar itu pun, menyoroti motor sampah yang sudah tidak terlihat wujudnya di masing-masing kelurahan. Pasalnya, saat mengangkut sampah hanya menggunakan grobak yang digandeng dengan kendaraannya sendiri.
“Kalau memang rusak setidaknya ada fisiknya. Kendaraan ini pengadaannya menggunakan APBD dan merupakan aset daerah,” ungkapnya.
Menanggapi hal itu, Wali Kota Bontang Basri Rase sependapat bahwa barang yang sudah tidak terpakai apapun itu merupakan sampah dan wajib dibersihkan.
Terkait persoalan kendaraan sampah Basri Rase akan memanggil dinas terkait. Ia menilai kendaraan pengangkut sampah memang sudah tidak layak untuk digunakan.
Baca juga di Google News disini >>
red/kaje











